Oleh: kang Ja'far | 31 Agustus 2010

MASALAH FIDYAH SHOLAT MENURUT PANDANGAN ISLAM

Ada Guru ( konon kabarnya dosen sebuah perguruan tinggi ) dengan nada sinis sambil mengejek mengatakan “Fidyah shalat merupakan taktik guru agama agar mendapatkan rizqi disaat ada kemalangan” Na’uzu billahi min zalik, mungkin beliauini terbaca pemikiran Seikh As-Sayyid As-Sabiq yang menyatakan :

أجمع العلماء على أن من مات وعليه فوائت من الصلاة فان وليه لا يصلى عنه ولا غيره

Artinya : Para Ulama sudah ijma’ (Konsensus) terhadap yang wapat yang masih ada shalatnya yang tinggal, walinya (kerabatnya) maupun orang lain tidak boleh mengqodhonya.

Pendapat ini tidak benar minimal belum dapat kita terima, sebab ulama ibnu basyar menuqilkan pendapat Imam Syafi’i Rahimahullah ( Qoul qodim) begini :

انه يلزم الولي ان خلف تركة أن تصلي عليه

Artinya : Sesungguhnya wajib bagi siwali mengqodho shalat orang yang meninggal, andainya dia meninggalkan warisan.

Demikian juga boleh mengqodho sholat orang yang meninggal menurut pendapat Imam Syibromalisi, Al-Ibadi, Ishaq, Atha, Ibnu Asyirin , Ibnu Daqiqi Al-Id dan Tajuddin As-Syubky.

Memang diakui, Pendapat yang masyhur dalam Mazhab Syafi’I ” Orang yang meninggal yang masih ada qodhoan shalatnya tidak ada perintah atau suruhan untuk mengqodho atau membayar Fidyah sholat orang tersebut”. Namun perlu kita ketahui banyak ulama berpendapat sangat baik membuatkan Fidyah sholat orang yang meninggal tersebut, diantaranya Imam Al-Qolyuby, Imam Nawawi, Imam Al-bughowy, Imam Ar-Rofi’I dan Imam Algoffal menjelaskan begini :

انه يطعم عن كل صلاة مدا

Artinya : Memberi makan satu mud (675 gr) dari setiap sholat wajib yang ditinggalkan.

Pemikiran beliau-beliau ini dikiaskan atau dianalogikan mereka kepada masalah shoum (puasa) yang nashnya begini :

من مات وعليه صيام صام عنه وليه (متفق عليه)

من مات وعليه صيام شهر فليطعم عنه مكان كل يوم مسكينا (رواه ابن ماجه)

Pendapat-pendapat Ulama Syafi’iyah ini sejalan dengan ijtihad Imam Abu Hanifah Rohimahulloh dan menurut As-Syafi’iyah setiap satu sholat wajib Fidyahnya satu mud (675 gr). Sehari semalam 5 x shalat wajib, sedangkan 1 tahun = 360 hari x 5 waktu =1800 x sholat wajib.1 tabung beras (4 kg) = 6 mud.

Bila orang meninggal berusia 45 tahun umpamanya, maka 45 tahun dikurang umur sebelum dewasa 15 tahun = 30 tahun dikurangi lagi ketaatan 15 tahun misalnya, tinggal yang perlu dibayar Fidyahnya 15 tahun lagi.

Kalau beras yang dipersiapkan untuk Fidyah ada 20 tabung, maka cara pelaksanaannya sebagai berikut :

15 tahun x 360 hari x 5 waktu = 27000 waktu.

20 tabung itu = 120 waktu. 27000 waktu : 120 mud = 225 kali.

Selanjutnya faqir A mensedekahkan kepada faqir B 113 kali dan faqir B mensedekahkan kepada Faqir A sebanyak 112 kali jumlahnya = 225 kali.

Dengan demikian selesailah Fidyah orang tersebut.

Imam Abu Hanifah hanya membolehkan dibayar Fidyah sholat orang yang meninggal dengan syarat :

a. Ada wasiat untuk dibuat Fidyah dari orang yang wafat itu

b. Makanan pokok, juga boleh dengan uang seharga 1/2 sha’ (1,9 kg).

c. Sehari semalam dihitung 6 kali sholat wajib dengan witir.

d. Tidak boleh sedekah berputar ( faqir A mensedekahkan kepada faqir B dan faqir B kembali mensedekahkan kepada faqir A dan seterusnya.

Kesimpulannya Imam Abu Hanifah Rahimahulloh tidak membolehkan membayar Fidyah orang yang meninggal tanpa ada wasiat dari orang yang meninggal tersebut.

H. MAHMUDDIN PASARIBU

AL-USTADZ MA,HAD MUSTHAFAWIYAH

sumber: http://ahmad21.wordpress.com/masalah-fidyah-sholat-menurut-pandangan-islam

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: