Selamat tinggal sabun

SABUN untuk mencuci pakaian mungkin akan menjadi bagian masa lalu. Ini bisa terlaksana, bila sebuah perusahaan di Tokyo, Japan Ace Corp., JAC, segera bisa menyempurnakan ciptaan mereka: mesm cuci yang tak lagi menggunakan motor dan sabun, tapi menggunakan gelombang ultrasonik. Penemu mesin revolusioner ini bukan perusahaan raksasa. JAC adalah perusahaan yang hanya memiliki 15 karyawan dengan omset penjualan sekitar 1,2 milyar yen setahun. Kantor perusahaan mini ini tersuruk di belakang gedung Mahkamah Agung Jepang, di daerah Hirakawa-cho, Tokyo. Pendiri dan presiden direktur JAC adalah seorang penyair dan novelis, Masao Kanazawa. JAC, yang didirikan Kanazawa delapan tahun silam dengan modal 27,5 juta yen, sebenarnya bukan produsen mesin cuci. Perusahaan ini dimulai dengan menciptakan sekrup yang tak bisa longgar. Konon, suatu hari bertahun yang silam, tatkala Kanazawa sedang menumpang sinkasen, kereta apl supercepat Jepang, sebuah sekrup gerbong jatuh ke lututnya. Penyair ini segera punya ide untuk membuat sekrup yang tak bisa longgar. Di kereta api itu juga ia langsung membuat rancangan tersebut. Di kemudian hari, sekrup ini memperoleh paten di 12 negara. Untuk melaksanakan gagasannya itulah Kanazawa mendirikan JAC. Perusahaan ini tidak memproduksi sendiri penemuan mereka. “JAC hendak menjadi penyuplai ide dan teon tercanggih yang dapat dipasarkan ke seluruh dunia,” ujar Shoji Enomoto, juru bicara JAC. Dengan kata lain, JAC ingin menjadi semacam think tank. Ide membuat mesin cuci tanpa sabun dilontarkan Kanazawa tiga tahun silam. Ia cemas akan pencemaran air akibat sabun yang semakin menjadi-jadi. “Perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi sabun hanya cari untung. Mereka selalu menutup mata terhadap berbagai masalah serius akibat polusi sabun cuci,” ujar Masao Kanasawa. Tujuh tahun yang lampau, JAC berhasil menemukan alat pencuci badan dengan gelombang ultrasonik bagi orang jompo yang harus selalu berbaring. Alat ini juga bisa merangsang peredaran darah, hingga dipercaya bisa menyembuhkan penyaklt saraf dan encok. Teknologi alat pencuci badan inilah yang kemudian dikembangkan untuk menciptakan mesin cuci tanpa sabun. Bila gelombang ultrasonik dimasukkan ke dalam air, akibat perbedaan tekanan gelombang yang tinggi dan rendah, akan muncul gelembung buih di bagian yang bertekan rendah. Fenomena ini biasanya disebut kavitasi. Gelombang ultrasonik ini juga punya fenomena vibrasi, dan bergetar 40-50 ribu kali dalam satu detik. Gelembung buih akibat kavitasi ini, sambil bergetar, dipecah oleh kenaikan tekanan. Pada saat pemecahan ini, tekanan air sangat kuat, sehingga menimbulkan suhu tinggi dan juga berbagai reaksi kimia, seperti oksidasi dan reduksi. Akibatnya, rontoklah kotoran-kotoran yang melengket di pakaian. Gejala kavitasi ini hanya berlangsung selama unsur gas (dan udara) berada dalam alr. Karena itu, perlu untuk terus mengisikan udara ke dalam air dengan kompresor. “Berdasarkan eksperimen, yang terbaik adalah gelombang ultrasonik berfrekuensi 28 kilohertz,” ujar Enomoto. JAC memerlukan waktu tiga tahun untuk menyelesaikan eksperimennya, yang menghabiskan dana satu milyar yen. Tapi, agaknya, penemuan JAC masih dianggap enteng oleh saingan-saingannya. Salah seorang pejabat perusahaan besar produsen mesin cuci yang memakai sabun menganggap penggunaan gelombang ultrasonik hanya ampuh di atas kertas. “Kemampuannya menghilangkan bercak-bercak minyak jauh lebih rendah, demikian pula pencegahan melekatnya kembali kotoran-kotoran yang sudah rontok,” ujarnya. Enomoto sendiri mengakui, mesin cuci ciptaan JAC, meski dalam empat sampai lima menit sanggup memberslhkan cucian kotor, belum sempurna. Kotoran di leher baju, yang sulit dihilangkan dengan mesin cuci biasa, juga susah dibersihkan dengan mesin cuci ultrasonik ini. JAC sendiri kini terus berusaha menyempurnakan mesin cucinya di pusat penelitian mereka di Kota Nagoya. Mesin cuci eksperimen mereka yang terakhir berukuran panjang dan lebar 40 cm, tinggi 80 cm, dilengkapi 12 buah osilator gelombang ultrasonik di dasar dan sisi, serta 12 saluran di dasar untuk mengirimkan udara ke air. JAC, yang kini sudah memperoleh hak paten di 18 negara, tak bermaksud memproduksi sendiri mesin ciptaan mereka, dan hanya akan menjual haknya pada pabrik pembuat berdasarkan royaltn Selumlah perusahaan elektronik, juga produsen sabun cuci, kabarnya sudah mendekati JAC. Meski banyak produsen mesin cuci konvensional skeptis, masa depan mesin cuci ultrasonik ini tampaknya cukup cerah, terutama di negeri-negeri industri maju, mengingat tingginya tarif listrik di sana. Biaya listrik mesin cuci baru ini cuma seperenam mesin cuci biasa, sedang konsumsi airnya hanya separuhnya. Perkiraan harga mesin cuciJAC ini sekitar 70 ribu yen bila tanpa hidroekstrator, dan 120 ribu yen bila menggunakan hidroekstrator. Dibandingkan mesin cuci konvensional yang harganya di pasaran Jepang kini 25-30 ribu yen, mesin cuci ultrasonik ini terhitung mahal. “Bila diperhitungkan dengan biaya untuk sabun, air, dan listrik pada mesm CUCI biasa, saya kira mesin cuci kami tak mahal,” Kanazawa membela diri. Ada satu hal lagi yang tampaknya bakal mendukung populernya mesin cuci ultrasonik ini: makin berkembangnya kekhawatiran akan pencemaran air akibat sabun. Di beberapa negara maju, misalnya di Eropa Barat, makin kuat kecenderungan untuk melarang sabun cuci kimia. Mesin cuci ultrasonik akan merupakan jalan keluar bagi bahaya pencemaran ini. Mesin cuciJAC dengan begitu merupakan ancaman besar bagi produsen sabun cuci. Tapi, untuk sementara, mereka masih bisa bernapas lega. JAC agaknya masih memerlukan waktu cukup lama sebelum bisa memasang iklan: lebih bersih, lebih cemerlang, dan lebih murah dengan mesin cuci ultrasonik. Seiichi Okawa (Tokyo)

sumber: tempo online

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s