Oleh: kang Ja'far | 2 Januari 2011

Sekolah Rumah, Solusi dari Beberapa Masalah Pendidikan


By Aprilia Lestari

Sistem pendidikan di Indonesia harus diakui masih mempunyai banyak kelemahan. Proses perbaikan terus dilakukan,. Tentu ini bukan hal yang mudah, mengingat beragamnya tingkat sosial dan kemasyarakatan. Melaksanakan pendidikan secara mandiri, atau sekolah rumah, bisa menjadi solusi. Tetapi peraturan tentang ini pun masih berubah-ubah dan terus diperbaiki.
Pendidikan adalah Hak Setiap Anak
Mendapatkan pendidikan merupakan hak dasar / azazi dari setiap orang terutama anak. Peraturan ini ada, baik dalam hukum negara maupun hukum agama. Melalui pendidikan setiap anak berhak mendapatkan bekal, minimal untuk menjadi manusia yang mandiri, baik secara lahir maupun batin. Keinginan atau cita-cita mereka tentu beragam, sebagian dari mereka tentu mempunyai cita-cita yang lebih tinggi dan lebih spesifik dari yang lain. Untuk mewujudkan keinginan ini, berbagai usaha dilakukan oleh orang tua di Indonesia pada saat ini. Mulai dari sekolah setinggi-tingginya, ditambah dengan les ini dan itu. Kebiasaan itu lama-lama menggeser pengertian kata ‘pendidikan’ menjadi ‘sekolahan’ atau pendidikan formal. Alur pikir yang terjadi adalah bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan, anak-anak harus sekolah. Bagi sebagian masyarakat yang merasakan dan melihat realitanya, ternyata pendidikan formal tidak selalu cukup memberi bekal untuk kemandirian (banyak mahasiswa yang saya temui masih tidak tahu bagaimana cara belajar dan menyelesaikan masalah-masalah sederhana dalam pembelajaran). Bahkan bagi sebagian anak, sekolah itu justru menjadi penghambat dalam proses pendidikannya. Sebutlah kekerasan di sekolah, pergaulan yang kurang baik, biaya sekolah yang tidak terjangkau, jarak dan medan tempuh ke sekolah yang menyulitkan untuk daerah-daerah terpencil di Indonesia. Bagi masyarakat yang mengalami hambatan seperti ini, dengan pengertian bahwa sekolah formal menjadi suatu syarat untuk mewujudkan cita-citanya, seolah-olah tidak punya pilihan lain untuk memberikan hak pendidikan pada anak.

Perkembangan Sekolah Rumah di Indonesia
Ki Hajar Dewantoro pernah menyatakan bahwa setiap orang adalah guru dan setiap rumah adalah perguruan. Ini adalah upaya Taman Siswa untuk mengembangkan pikiran, fisik dan budi pekerti anak didiknya. H.Agus Salim memilih untuk mendidik anak-anaknya sendiri di rumah sehingga mereka tidak hanya pandai membaca, menulis dan berhitung, tetapi juga memperdalam keislaman dan menguasai berbagai bahasa asing. Ini adalah bentuk klasik dari sekolah rumah atau otodidak.
Dengan munculnya hambatan-hambatan dalam pendidikan formal dan tidak tercapainya tujuan pendidikan, munculah pola pendidikan yang kemudian dikenal sebagai sekolah rumah. Mulai dari keluarga yang melaksanakan pembelajaran secara tunggal atau berkelompok sampai kemudian muncul komunitas-komunitas belajar yang mewadahi dan memfasilitasi pelaku-pelaku belajar mandiri ini. Akhir-akhir ini lembaga seperti ini semakin banyak . Jika keberadaan pola tersebut tidak terkontrol dengan baik, sangat mungkin tidak akan memberi nilai lebih apapun dari sekolah formal, atau bahkan akan memunculkan sisi negatif dari sistem ini.

Berawal dari Tujuan Pendidikan
Sebuah pesantren di dekat rumah saya mempunyai tujuan pembelajaran menjadikan generasi yang paham agamanya, baik budi pekertinya dan mandiri. Maksud mereka tentunya untuk bisa berdakwah dan menjadi panutan bagi masyarakat di lingkungannya. Tetapi untuk menekuni pendidikan dakwah ini. kebanyakan dari mereka menghentikan pendidikan formal / sekolahnya. Alasan utamanya adalah waktu sekolah yang bentrok dengan waktu belajar di pesantren. Walaupun waktu belajar di pesantren lebih fleksibel, tetapi santri yang belajar di pesantren sambil sekolah kebanyakan tidak mampu menyelesaikan keduanya, yang terjadi adalah gagal sekolahnya atau tidak lulus santrinya.
Para pengurus pesantren memahami hal ini, kemudian mengajak saya untuk memfasilitasi santri-santri yang masih mempunyai keinginan untuk belajar. Dengan harapan dapat membantu keberhasilan mereka dalam menyampaikan misi dakwahnya untuk mengajak masyarakat lebih meningkatkan kefahaman dalam kehidupan beragama, dengan bahasa dan wawasan yang lebih bisa diterima oleh masyarakat sebagai sasaran dakwah mereka serta mendapat sertifikat formal sebagai legalitas dari kemampuan intelektualnya . Dengan modal pengetahuan dan pengalaman kami yang tidak seberapa, kami berusaha untuk dapat menyempurnakan tujuan pendidikannya yang kedua dan ketiga, yaitu meningkatkan budi pekerti dan kemandirian. Karena cara untuk mandiri dari jaman ke jaman dari tempat ke tempat memang berubah-ubah. Kurikulum pendidikan formal yang diadaptasi diharapkan bisa menjadi salah satu penyokong kemandirian santri. Selain itu juga aplikasi dakwah lebih bisa diterima oleh masyarakat karena lulusan pesantren memahami tingkat pendidikan dan tingkat sosial masyarakatnya. Kurikulum yang kami sediakan sementara ini hanya untuk SMA jurusan IPS, kami juga berharap bisa memfasilitasi jurusan IPA di waktu yang akan datang. Jika kami mampu mempertahankan misi kami dalam dunia pendidikan, kami berharap untuk selanjutnya selain santri, kami bisa juga mengkoordinir dan memfasilitasi siswa-siswa umum dari luar pesantren.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: