Humor Gus Dur

Membayangkan Serdadu Israel

canda_gus_dur.jpeg
HAMPIR tak ada negara yang rela ketinggalan mengikuti olimpiade. Acara empat tahunan itu merupakan salah satu cara promosi negara masing-masing. Dan tentu saja, peristiwa ini juga sangat bergengsi karena acara ini diliput oleh media massa semua negara peserta.

Wajarlah kalau setiap negara berusaha mengirimkan atlet terbaiknya, dengan harapan mereka bisa mendapat medali emas. Begitulah sambutan Presiden Gus Dur saat melepas tim Indonesia ke Olimpiade Sydney kala itu.

Gus Dur lalu bercerita tentang peristiwa yang pernah terjadi di Suriah. Pada waktu Olimpiade beberapa tahun lalu, tuturnya, kebetulan pelari asal Suriah memperoleh medali emas. Sang pelari mampu memecahkan rekor tercepat dari pemenang sebelumnya. Bahkan selisih waktunya pun terpaut jauh.

Maka, ia langsung dikerubuti para wartawan karena punya nilai berita yang sangat tinggi. “Apa sih rahasia kemenangan Anda? tanya wartawan.

“Mudah saja” jawab si pelari Suriah, enteng. “Tiap kali bersiap-siap akan mulai, saya membayangkan ada serdadu Israel di belakang saya yang akan menembak saya.”

Tak Bilang Korupsi

humor_gus_dur.jpeg
SEORANG pejabat tinggi, sebut saja si Fulan, merasa deg-degan dicap sebagai koruptor oleh Gus Dur. Sebab, Gus Dur mengatakan bahwa perbuatan tertentu yang dilakukan si Fulan tak bisa lain kecuali diartikan korupsi.

“Dibolak-balik bagaimanapun, itu adalah korupsi. Titik,” kata Gus Dur.

Mungkin atas permintaan si Fulan atau diimbau orang lain, salah seorang yang dekat dengan Gus Dur meminta agar Gus Dur tak lagi menyerang si Fulan, apalagi dengan tuduhan korupsi. Si Fulan dalam kasus itu sama sekali tak melakukan korupsi, melainkan sekadar meneruskan secara resmi sebuah permohonan.

Apalagi, ada yang memalsukan susbtansi persoalannya. Gus Dur pun setuju untuk tak lagi mengatakan si Fulan korupsi.

Tetapi besoknya, Gus Dur bilang si Fulan itu tergolong teroris karena ikut mendalangi beberapa kerusuhan. Ketika ditanya mengapa masih menyerang si Fulan, padahal sudah menyatakan tak akan menyerangnya lagi, Gus Dur pun menjawab bahwa dirinya sudah memenuhi janji untuk tidak lagi mengatakan si Fulan korupsi.

“Saya tadi kan tak bilang dia korupsi, saya hanya bilang teroris,” jawabnya enteng.

Semua Presiden Punya Penyakit Gila



KELIHAIAN Gus Dur dalam melakukan serangan politik sambil berkelit dengan mengundang senyum geli memang tak diragukan lagi.

Serangan atau kelitan poitik Gus Dur kerap mengundang tawa geli karena selain sangat keras juga lucu. Dia memang dikenal sebagai penyaji humor politik tingkat tinggi.

Kita masih ingat humor politik Gus Dur yang dilempar kepada Presiden Kuba Fidel Castro. Ketika melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuba, Gus Dur memancing tawa saat menyelingi pembicaraannya dengan Castro bahwa semua presiden Indonesia punya penyakit gila.

Presiden pertama Bung Karno gila wanita, presiden kedua Soeharto gila harta, presiden ketiga Habibie benar-benar gila ilmu, sedangkan Gus Dur sendiri sebagai presiden keempat sering membuat orang gila karena yang memilihnya juga orang-orang gila.

Sebelum tawa Castro reda, Gus Dur langsung bertanya. “Yang Mulia Presiden Castro termasuk yang mana?”

Castro menjawab sambil tetap tertawa, “Saya termasuk yang ketiga dan keempat.”

Apa selesai sampai di situ? Tidak. Ketika mengunjungi Habibie di Jerman, oleh orang dekat Habibie, Gus Dur diminta mengulangi cerita lucunya dengan Castro itu. Merasa tak enak untuk menyebut Habibie benar-benar gila atau gila beneran, Gus Dur memodifikasi cerita tersebut. Kepada Habibie, dia mengatakan, dirinya bercerita kepada Castro bahwa presiden Indonesia hebat-hebat.

Kata Gus Dur, Presiden Soekarno negarawan, Presiden Soeharto seorang hartawan, Presiden Habibie ilmuwan, sedangkan Gus Dur wisatawan.

Selain menghindari menyebut Habibie benar-benar gila, jawaban itu sekaligus merupakan jawaban Gus Dur yang bersahabat atas kritik bahwa dirinya sebagai presiden banyak pergi ke luar negeri seperti berwisata saja.

Caleg ICMI dan DPR Manohara

lelucon_gus_dur.jpeg
Guyoan ini disampaikan Kyai Hasyim dalam diskusi JPPR bertajuk ‘Masyarakat Sipil dan Demokratisasi di Indonesia: Belajar dari Pengalaman Pemilu/Pilkada’ di Hotel Gran Mahakam, Jakarta, Rabu (5/8/2009). Banyak caleg yang tak punya modal materi besar akhirnya kalah dalam pemilu legislatif lalu. Para caleg yang kalah ini pun disebut Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi tergabung dalam ‘ICMI’. Apa itu?

“Pemilu legislatif sekarang ini lebih rumit, karena mereka yang tergabung dalam ‘ICMI’ yaitu Ikatan Caleg Miskin Indonesia, rata-rata tidak terpilih, karena memang tidak memiliki modal yang cukup,” ujar Kyai Hasyim membuat hadirin tertawa terpingkal-pingkal.

Hasyim juga menyatakaan bahwa demam Manohara rupanya merembet ke DPR. Tapi Manohara yang ini bukanlah merujuk pada istri Pangeran Kelantan Tengku Fachry yang menderita dan kini menjadi pesinetron. Melainkan menunjukkan kondisi DPR yang kini sangat memprihatinkan.

“DPR sekarang ini namanya ‘manohara’, yaitu manuver dan huru-hara. Dengan melakukan manuver membuat mereka melejit lebih tinggi, namun dampaknya ternyata dapat menimbulkan huru-hara,” ujar Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi memelesetkan nama Manohara.

Seiring Sejalan



DALAM sebuah forum yang dihadiri pejabat sipil dan militer, Gus Dur, yang saat itu masih menjadi Ketua Umum PBNU, menjadi salah satu pembicaranya.

“Untuk melaksanakan pembangunan nasional diperlukan persatuan dan kesatuan semua golongan. Para ulama dan umara’ harus bersatu bagaikan sekeping mata uang,” katanya. Sampai di sini hadirin masih manggut-manggut.

Lalu Gus Dur melanjutkan, “Antara ulama bisa seiring, namun belum

tentu sejalan,” katanya. Hadirin mulai mengernyitkan dahi.

“Contohnya di forum ini. Para ulama dan umara’ bisa seiring duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, namun belum tentu seiring sejalan, atau memang tidak sejalan, khususnya dengan militer.” Hadirin pun mulai membelalak.

“Jika para ulama dan kyai masuk ruangan ini, disunatkan mengenakan tutup kepala, tetapi para umara’ khususnya militer malah diwajibkan melepas tutup kepala.”

Karuan saja hadirin menjadi tertawa.

Tak Punya Latar Belakang Presiden



MANTAN Presiden Abdurrahman Wahid memang unik. Dalam situasi genting dan sangat penting pun dia masih sering meluncurkan joke-joke yang mencerdaskan.

Seperti yang dituturkan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat diinterview salah satu televisi swasta. “Waktu itu saya hampir menolak penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan. Alasan saya, karena saya tidak memiliki latar belakang soal TNI/Polri atau pertahanan,” ujar Mahfud.

Tak dinyana, jawaban Gus Dur waktu itu tidak kalah cerdiknya. “Pak Mahfud harus bisa. Saya saja menjadi Presiden tidak perlu memiliki latar belakang presiden kok,” ujar Gus Dur santai.

Karuan saja Mahfud MD pun tidak berkutik. “Gus Dur memang aneh. Kalau nggak aneh, pasti nggak akan memilih saya sebagai Menhan,” kelakar Mahfud.

Becak Dilarang Masuk



SAAT menjadi Presiden, Gus Dur pernah bercerita kepada Menteri Pertahanan Mahfud MD tentang orang Madura yang katanya banyak akal dan cerdik.

Ceritanya ada seorang tukang becak asal Madura yang pernah dipergoki oleh polisi ketika melanggar rambu “Becak dilarang masuk”. Tukang becak itu masuk ke jalan yang ada rambu gambar becak disilang dengan garis hitam yang berarti jalan itu tidak boleh dimasuki becak.

“Apa kamu tidak melihat gambar itu? Itu kan gambar becak tak boleh masuk jalan ini,” bentak Pak polisi.

“Oh saya melihat, Pak, tapi itu kan gambarnya becak kosong tidak ada pengemudinya. Becak saya kan ada yang mengemudi, tidak kosong berarti boleh masuk,” jawab si tukang becak.

“Bodoh, apa kamu tidak bisa baca? Di bawah gambar itukan ada tulisan bahwa becak dilarang masuk,” bentak polisi lagi.

“Tidak, Pak, saya tidak bisa baca, kalau saya bisa membaca maka saya jadi polisi seperti sampeyan, bukan jadi tukang becak begini,” jawab si tukang becak sambil cengengesan.

Krisis Ekonomi



KETIKA Gus Dur menjadi Presiden RI, beliau mengirim tim ekonominya ke AS untuk bertemu dan meminta pandangan Presiden Bill Clinton tentang Ekonomi Indonesia yang saat itu sedang didera krisis. Sesampainya di AS, tim ekonomi disambut di Gedung Putih namun dengan nada yang sangat pesimis.

“Kami di AS punya Johny CASH (aktor di Las Vegas), Stevie WONDER (penyanyi kondang), dan Bob HOPE (pelawak tenar)” demikian sambut Clinton.

“Anda di Indonesia, tidak punya CASH (uang tunai), tidak ada WONDER (keajaiban), jadi tidak ada HOPE (harapan) …. CASHLESS, WONDERLESS, dan HOPELESS!” Tegas Bill.

Tim ekonomi Indonesia pun pulang dengan wajah tertunduk lesu.Sesampainya di Istana Merdeka, Tim ekonomi melapor kepada Presiden Gus Dur.

“Gimana hasil kunjungan ke AS?” Sapa Gus Dur.

Ketua Tim ekonomi pun berkeluh kesah: “Wah, payah Gus! Menurut Clinton Indonesia tidak punya Johny CASH, Stevie WONDER, dan Bob HOPE. Jadi kita CASHLESS, WONDERLESS, dan HOPELESS! Pendeknya susah deh, Gus!

”Sambil senyum-senyum, Gus Dur menjawab dengan jenaka dan cerdik: ”Gitu aja kok repot! Kita memang tidak punya Johny CASH, Stevie WONDER, dan Bob HOPE…. Tapi kita punya banyak SLAMET, HARTO, dan UNTUNG!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s