Oleh: kang Ja'far | 11 Mei 2013

7 Ciri Sekolah Masa Depan (SMD)

Sekolah Kuno seharusnya merubah diri, karena zaman telah berubah. Berbagai perkembangan zaman telah mengubah berbagai pandangan dan paradigma lama yang telah usang. Namun begitu, masih banyak pihak yang memiliki fanatisme yang berlebihan sehingga sulit terbuka untuk menerima berbagai inovasi dan penemuan terbaru tentang pembelajaran.
Sekolah tempat anak Anda apakah termasuk sekolah kuno ataukah termasuk sekolah masa depan?
1. Fokus menemukan dan memupuk potensi unggul setiap anak
Sekolah masa depan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk menemukan potensi unggulnya. Dalam pembelajaran di sekolah, anak dapat menemukan apa yang menjadi kelebihannnya. Dengan pembimbingan guru, anak diarahkan untuk membangkitkan berbagai potensi yang dimiliki. Sekolah melalui guru memberikan berbagai kegiatan belajar yang dapat mengeksplorasi semua kemampuan setiap siswa.
Setelah menemukan potensi, sekolah juga harus menyediakan sarana dan prasarananya untuk memupuk potensi itu. Sangat disayangkan jika anak sudah menemukan potensinya namun tidak ada wahana untuk memupuk potensi itu agar melejit. Untuk itu sarana perpustakaan lengkap, multimedia, internet, laboratorium kecil (sain, sosial), dan tempat unjuk kreatifitas.
2. Mengembangkan kecerdasan beragam dan mengembangkan moral anak secara berimbang
Sekolah kuno adalah sekolah yang hanya mengembangkan aspek intelektual saja. Sehingga anak yang menikmati sekolah kuno adalah anak yang hanya jago matematika, yang memiliki rangking (baca juga bahaya rangking). Sementara anak yang cerdas fisik, musik tak menikmati belajar di sekolah kuno.
Sementara sekolah masa depan adalah sekolah yang memberikan kesempatan terbuka kepada semua anak untuk mengembangkan kecerdasan yang dimilikinya. Anak yang cerdas musik menimati pembelajaran musik yang disukainya, anak yang cerdas fisik melakukan berbagai kegiatan yang disukainya.
Selain itu, sekolah masa depan juga mengembangkan moral anak. Ciri yang terlihat adalah adanya pembiasaan yang konsisten yang diterapkan sekolah. Kebiasaan membuang sampah di tempatnya, kebiasaan menghormati guru, kebiasaan belajar terbuka menjadi ciri utamanya.
3. Mengajarkan life skill
Sekolah masa depan bisa mengetahui kebutuhan dasar seluruh siswanya. Sekolah masa depan dapat mengajarkan dan mengembangkan keterampilan hidup (life skill) siswanya. Sekolah masa depan adalah miniatur masyarakat, bukan sebaliknya memisahkan anak dengan dunia nyatanya. Sekolah mensuport (mendukung) berbagai kegiatan yang berbasiskan keterampilan dasar yang berhubungan dengan lingkungan sekitarnya. Bagaiman anak bersikap terhadap orang lain, terhadap lingkungan kelas, terhadap lingkungan masyarakat menjadi bagian utama pembelajaran.
4. Sistem penilaian yang berbasiskan hasil karya ilmiah dan peningkatan kemampuan penguasaan bidang-bidang yang dipelajarinya
Inilah beda nyata sekolah kuno dan sekolah masa depan. Sekolah kuno hanya memberikan penilaian pada tertulis dalam bidang akademik saja. Test-test tertulis menjadi evaluasi utama pembelajaran. Tak ada waktu untuk melakukan test praktek. Anak hanya dinilai dari tulisannya saja. Sementara sekolah masa depan sekolah yang memberikan penilaian
5. Sekolah yang berbasiskan pada kehidupan dan praktek-praktek lapangan
Inti dari sekolah adalah pusat dari pembelajaran sejati untuk menghadapi masa depan kelak saat hidup dalam masyarakat. Jadi sangatlah tidak fair jika sekolah malah digunakan untuk menghalangi anak belajar sesuai kepada masyarakat. Pada hakikatnya, anak di sekolah belajar tentang kehidupan. Anak belajar bagaimana ia nantinya bisa beradaptasi dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya. Untuk itu dperlukan berbagai latihan-latihan praktek dan praktis yang bisa dipelajari siswa.
Ketika di sekolah anak belajar matematika, makasekolah melalui gurunya harus bisa membawa matematika keseharian dalam pembelajaran di kelas.
6. Para guru yang selalu memotivasi dan mendorong siswa untuk mau dan mampu mempelajari sesuatu
Tugas guru bukan memberi pengetahuan dan mentransfer ilmu. Guru di sekolah masa depan memiliki tugas sebagai motivator penggerak energi dalam diri anak. Guru sebagai motivator berarti guru memahami apa yang diingini dan diharapkan anak. Guru memberikan motivasi akan anak mampu belajar secara mandiri.
Jika di sekolah kuno guru datang menjelaskan pelajaran, mengevaluasi siswa terus pulang, maka guru di sekolah masa depan adalah guru yang bisa memberikan motivasi anak untuk bergerak mandiri belajar menemukan pengetahuan yang belum diberikan guru.
7. Mengembalikan sistem dan pola pembelajaan pada kodrat penciptaan anak

  • Sifat dasar

Sifat dasar anak adalah suka bermain dan selalu bergembira. Sekolah masa depan adalah sekolah yang mampu merancang pembelajaran yang dilakukan dengan bermain dan dalam suasana yang menyenangkan. Penekanan, stressing, ancaman merupakan sifat guru kuno yang harus ditinggalkan.

  • Cara belajar / gaya belajar

Setiap anak belajar sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ada yang memiliki kelebihan gaya belajar dalam auditori, ada yang lebih di visual maupun memiliki keunggulan di kinestetik.Guru masa depan harus bisa menemukan dan mengembangkan model pembelajaran berdasarkan gaya belajar di atas. Memadukan ketiga gaya belajar merupakan kreativitas tertinggi guru dalam strategi pembelajaran yang diterapkannya.

  • Potensi unggul

Jika di kelas ada 40 siswa, maka di kelas itu ada 40 potensi yang unik, yang berbeda antara siswa satu dengan yang lainnya. Diperlukan 40 strategi belajar yang memadai untuk masing-masing anak. Tugas guru adalah menemukan potensi masing-masing anak dan mengaplikasikannya dalam proses belajar mengajar di kelas.

  • Psikologi perkembangan

Sekolah masa depan memandang anak adalah individu yang sedang dalam peoses perkembangan. Anak di sekolah merupakan anak yang sedang berkembang sesuai dengan karakter masing-masing. Fase perkembangan anak yang bebeda setiap usianya memberikan landasan kuat bagi sekolah dan guru dalam mendisain pembelajaran dan kurikulum. Sekolah masa depan mengakomodir fase perkembangan dalam rangka memahami anak sesuai dengan fitrahnya.
Sumber : Critic – V.01 edisi.03.07
copas: http://smkn7-smr.sch.id/artikel/11.html


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: