Oleh: kang Ja'far | 16 Juli 2014

Adab dan akhlak

Materi adab dan akhlak

 

Sesungguhnya segala puji milik Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan meminta ampunan-Nya. Kami juga berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya semoga shalawat Allah dan salam terlimpah kepadanya. Amma ba’d,

  

Beberapa Akhlak Islami

Berikut ini di antara akhlak yang diperintahkan oleh Islam:

  1.      Berlaku jujur apa adanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

“Hendaklah kamu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa seseorang ke surga, dan jika seseorang selalu berlaku jujur serta memilih kejujuran sehingga akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. ” (HR. Bukhari-Muslim)

  1.      Menunaikan amanah.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…dst.” (Terj. An NIsaa’: 58)

Amanat artinya setiap yang dibebankan kepada manusia dan mereka diperintahkan memenuhinya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan hamba-hamba-Nya menunaikan amanat secara sempurna tanpamenguurangi. Termasuk ke dalam amanat adalah amanat beribadah (seperti shalat, zakat, puasa dsb.), amanat harta, amanat untuk dirahasiakan dsb. Contoh menunaikan amanat dalam hal harta adalah dengan menjaganya dan mengembalikan kepada pemiliknya secara utuh, sedangkan amanat dalam rahasia adalah dengan menyembunyikannya; tidak membukanya.

  1.      Menepati janji.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya.” (Terj. Al Israa’: 34)

Menyalahi janji adalah salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

“Tanda orang munafik itu tiga; jika berbicara berdusta, jika berjanji menyalahi dan jika dipercaya khianat.” (HR. Bukhari-Muslim, dan dalam riwayat keduanya dari hadits Abdullah bin ‘Amr ada tambahan “Dan jika bertengkar berbuat jahat.”)

  1.      Tawadhu’ (berendah diri).

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Ter. Al Hijr: 88)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اَللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا, حَتَّى لَا يَبْغِيَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ, وَلَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku untuk bertawadhu’, sehingga tidak ada lagi orang yang bersikap sombong  dan angkuh terhadap yang lain.” (HR.  Muslim)

  1.      Berbakti kepada orang tua.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.—Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik…dst.” (Terj. Luqman: 14-15)

  1.      Menyambung tali silaturrahim (hubungan kekeluargaan).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أََحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ, وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ, فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah tali silaturrahim.” (HR. Bukhari(

  1.      Berlaku baik kepada tetangga
  2.      Memuliakan tamu.

Dalil berbuat baik kepada tetangga dan memuliakan tamu disebutkan dalam hadits berikut:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكِْرمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia muliakan tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari-Muslim)

  1.      Dermawan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأَخْلاَقَ وَ يَكْرَهُ سَفْسَافَهَا

“Sesungguhnya Allah Ta’alah Maha Pemurah, Dia mencintai sifat pemurah (dermawan), Dia mencintai akhlak yang tinggi dan membenci akhlak yang rendah.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, Shahihul Jaami’ no. 1744)

  1.  Santun dan pemaaf.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

(#qàÿ÷èu‹ø9ur (#þqßsxÿóÁu‹ø9ur 3 Ÿwr& tbq™7ÏtéB br& tÏÿøótƒª!$# óOä3s9 3

Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?” (An Nuur: 22)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Allah tidaklah menambahkan hamba-Nya yang selalu memaafkan kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Allah kecuali Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

  1.  Mendamaikan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَ الصَّلاَةِ وَ الصَّدَقَةِ ؟  إِصْلاَحُ ذَاتَ الْبَيْنِ فَإِنَّ فَسَادَ ذاَتَ الْبَيْنِ هِيَ الْحَالِقَةُ

“Maukah kamu aku beritahukan hal yang lebih utama dari derajat puasa, shalat dan sedekah (sunat)? Yaitu mendamaikan orang yang bermusuhan, karena merusak hubungan adalah yang memangkas (agama).” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani no. 2595)

  1.  Malu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْحَيَاءُ مِنْ اَلْإِيمَانِ

“Malu termasuk bagian dari iman.” (HR. Bukhari-Muslim)

اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan.” (HR. Bukhari-Muslim)

  1.  Berkasih sayang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

“Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di atas langit (Allah) akan menyayangimu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Hakim, Shahihul Jami’ no. 3522)

  1.  Berlaku adil.

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (Terj. An Nahl: 90)

  1.  Menjaga kesucian diri (iffah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اِضْمَنُوْا لِيْ سِتَّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمُ الْجَنَّةَ اُصْدُقُوْا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَ أَوْفُوْا إِذَا وَعَدْتُمْ وَ أَدُّوْا إِذَا ائْتُمِنْتُمْ وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّواْ أَبْصَارَكُمْ وَ كُفُّوْا أَيْدِيَكُمْ

“Berjanjilah untukku untuk melakukan enam perkara, niscaya aku akan menjanjikan kamu surga; berkatalah yang benar ketika kamu berbicara, penuhilah janji ketika kamu berjanji, tunaikanlah amanat ketika kamu diamanati, jagalah kehormatanmu, tundukkanlah pandanganmu dan tahanlah tanganmu (dari melakukan yang tidak dibolehkan secara syara’).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Baihaqi dalam Asy Syu’ab, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1018).

 

Marwan bin Musa

Maraji’: Haadzaa huwal Islaam (Adil Asy Syiddiy dan Ahmad Al Mazyad), Taisirul Karimir Rahman (Syaikh As Sa’diy), Minhajul Muslim (Syaikh Abu Bakr Al Jazaa’iriy) dll.

 

 

 

 

Adab Terhadap Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

Adab Terhadap Allah

‘Azza wa Jalla

Sudah sepatutnya seorang muslim memiliki sikap yang pantas terhadap Allah Subhaanahu wa Ta’ala Tuhannya dan karena keberadaan dia dihadapan-Nya sebagai hamba. Maka berikut ini di antara sikap-sikap yang patut dimiliknya terhadap Allah Azza wa Jalla Tuhannya.

1. Tidak berbuat syirk kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Oleh karena itu, dia hanya beribadah dan menyembah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala saja, karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala adalah Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu sembah matahari maupun bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika Dialah yang kamu sembah.”(QS. Fushshilat: 37)

2. Mengikhlaskan ibadah hanya karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Ikhlas adalah syarat diterimanya ibadah di samping sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan Allah Subhaanahu wa Ta’aala hanyalah menerima amal yang ikhlas karena-Nya dan jauh dari riya’, Dia berfirman:

“Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (Terj. Al Kahfi: 110)

3. Merasa diawasi Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Allah Subhaanahu wa Ta’aala melihat semua makhluk-Nya; Dia melihat perbuatan kita dan mendengar ucapan kita serta mengetahui apa yang ada dalam hati kita. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menaati Tuhannya baik dalam suasana sepi maupun terang-terangan serta menjauhi apa yang dilarang-Nya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya ihsan, Beliau menjawab,

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Yaitu kamu beribadah kepada Allah, seakan-akan kamu melihat-Nya, jika kamu tidak merasa begitu, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)

4. Meminta pertolongan kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Seorang muslim senantiasa meminta kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan yakin, bahwa Dialah yang berkuasa untuk memberikan dan menghalangi, sehingga Dia pun meminta dan menghadap kepada-Nya, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Katakanlah, “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Terj. QS. Ali Imran: 26)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ

“Jagalah (perintah) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah (perintah) Allah niscaya Dia akan selalu berada di hadapanmu[i]. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan suatu manfaat kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikit pun kecuali sesuai apa yang telah ditetapkan Allah bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu bahaya kepadamu, niscaya mereka tidak akan dapat menimpakannya kecuali bahaya yang telah ditetapkan Allah bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering[ii]. (HR. Tirmidzi dan dia berkata, “Haditsnya hasan shahih.”)

5. Mencintai Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Seorang muslim cinta kepada Tuhannya dan tidak mendurhakai-Nya. Hal ini sebagaimana firman-Nya:

ûïÉ‹©9$#ur (#þqãZtB#uä ‘‰x©r& ${6ãm °! 3

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al Baqarah: 165)

6. Memuliakan syiar-syiarnya

Seorang muslim memuliakan perintah-perintah Allah. Oleh karena itu, ia segera menjalankan perintah-Nya, ia juga menghormati larangan-larangan Allah sehingga ia pun menjauhinya. Ia juga tidak malas dan meremehkan ibadah. Ia lakukan hal itu (menghormati syiar-syiar Allah) adalah karena ia tahu bahwa hal itu menambahkan ketakwaan. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari Ketakwaan hati.” (Terj. Al Hajj: 32)

7. Marah ketika larangan-larangan Allah dilanggar

Seorang muslim ketika melihat orang yang mengerjakan suatu dosa atau tetap di atas maksiat, maka ia marah karena Allah, ia mencoba untuk merubah kemungkaran atau kemaksiatan yang ia lihat itu. Dan di antara dosa besar yang membinasakan seseorang dan menyebabkan kemurkaan Allah Subhaanahu wa Ta’aala adalah menghina agama Allah atau menghina kitab-Nya atau Rasul-Nya. Seorang muslim marah terhadapnya dan melarang orang yang melakukannya serta memperingatkan azab Allah kepadanya.

8. Bertawakkal kepada Allah

Seorang muslim bertawakkal kepada Allah dalam setiap urusannya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

`tBur ö@©.uqtGtƒ ’n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨

“Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (Ath Thalaq: 3)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Kalau kamu bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tentu kamu akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki, ia berangkat dalam keadaan berperut kosong dan pulang dalam keadaan berperut kenyang.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, ia berkata, “Hadits hasan shahih,” dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat shahih Ibnu Majah 4164)

9. Ridha dengan takdir Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Seorang muslim ridha dengan takdir Allah Subhaanahu wa Ta’aala, karena hal itu termasuk tanda keimanannya kepada Allah. Oleh karena itu, ia pun bersabar dan tidak berkata sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian manusia, “Mengapa Engkau wahai Tuhanku berbuat demikian kepadaku?”

Seorang muslim tidak akan menentang takdir Allah, bahkan mengucapkan kata-kata yang membuat Allah Subhaanahu wa Ta’aala ridha, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.—(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun[iii], “–Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Terj. Al Baqarah: 155-157)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ{ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Tidak ada seorang muslim yang ditimpa musibah, lalu ia mengucapkan seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” Allahumma’jurniy fii mushibati wa akhlif lii khairam minhaa[iv].”Kecuali Allah akan menggantikan untuknya yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim)

10. Bersumpah hanya dengan nama Allah

Seorang muslim tidak bersumpah kecuali dengan nama Allah dan tidak bersumpah kecuali jika isinya benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang bersumpah, maka bersumpahlah dengan nama Allah atau diam.” (HR. Bukhari)

11. Bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala

Nikmat yang diberikan Allah kepada kita banyak sekali, bahkan saking banyaknya kita tidak sanggup menghitungnya. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim bersyukur kepada Allah baik dengan hatinya, yaitu ia akui bahwa semua nikmat itu berasal dari Allah, dengan lisannya, yaitu dengan memuji Allah, dan dengan anggota badannya, yaitu dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dan menggunakan nikmat-nikmat itu untuk ketaatan kepada-Nya, bukan untuk bermaksiat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

 “Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(Terj. Ibrahim: 7)

12. Bertobat kepada Allah

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (An Nuur: 31)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia! Bertobatlah kamu kepada Allah, sesungguhnya aku bertobat dalam sehari kepada-Nya sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim)

Seperti inilah adab seorang muslim terhadap Allah Tuhannya, ia bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, malu kepada-Nya, bertobat dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, berharap rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, ridha dengan takdir-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpanya, tidak berdoa kepada selain-Nya, lisannya senantiasa menyebut nama-Nya, tidak bersumpah kecuali dengan nama-Nya, tidak meminta pertolongan kecuali kepada-Nya, selalu merasa diawasi-Nya dan berbuat ikhlas kepada-Nya baik di suasana sepi maupun ramai.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah.

 

 

Beberapa adab terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Berikut ini beberapa adab yang perlu kita lakukan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

  1.       Mengimani bahwa Beliau adalah hamba dan Rasul-Nya shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Pernyataan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hamba menghendaki kita untuk tidak bersikap ifrath (berlebihan) terhadap Beliau; tidak seperti orang-orang Nasrani yang berlebihan terhadap nabi mereka sampai menuhankannya. Dan pernyataan bahwa Beliau sebagai Rasul menghendaki kita untuk tidak bersikap tafrith (meremehkan) Beliau, karena Beliau adala utusan Allah. Oleh karena itu, kita harus memiliki adab yang tinggi terhadap Beliau, seperti menaati perintahnya, menjauhi larangannya, dsb.

  1.       Menaati perintahnya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَاحْذَرُواْ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

“Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. Al Maa”idah: 92)

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (QS. An Nuur: 63)

  1.       Menjauhi larangannya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya.” (QS. Al Hasyr: 7)

  1.       Membenarkan setiap sabdanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« وَالَّذِى نَفْسُ {مُحَمَّدٍ} بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ » .

“Demi Allah yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidak ada seorang pun yang mendengar tentang diriku dari umat ini; baik orang Yahudi maupun Nasrani, lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada yang aku bawa kecuali ia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

  1.       Beribadah kepada Allah sesuai contohnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1.       Mencintainya di atas kecintaan kepada diri sendiri, anak, ayah, dan manusia seluruhnya.

Rasulullah shallalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian, sampai aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya, dan manusia semuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam, bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu selain diriku,” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ

“Tidak, demi Allah yang diriku di Tangan-Nya, bahkan sampai aku lebih dicintai olehmu daripada dirimu.”

Umar berkata, “Sekarang, demi Allah. Engkau lebih aku cintai daripada diriku.” (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Sekarang (sempurna imanmu), wahai Umar.”

  1.       Menghidupkan sunnahnya, menyampaikan dakwahnya, dan melaksanakan pesan-pesannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ » .

“Barang siapa mencontohkan dalam Islam sunnah yang baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan setelahnya. Barang siapa yang mencontohkan sunnah yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)

Sunnah yang baik dalam hadits ini adalah mencontohkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebelumnya ditinggalkan manusia, sedangkan sunnah yang buruk adalah mengadakan bid’ah dalam agama. Hal ini ditunjukkan oleh hadits berikut:

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي، فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ، كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً، فَعُمِلَ بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا، لَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا

“Barang siapa yang menghidupkan salah satu sunnahku, lalu dilakukan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang mengadakan sebuah bid’ah, lalu dikerjakan oleh yang lain, maka ia akan menanggung dosa seperti dosa orang yang melakukannya tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa orang yang melakukannya.” (HR. Ibnu Majah, dan dinyatakan shahih lighairih oleh Al Albani).

  1.       Mengedepan perkataan Beliau di atas semua perkataan manusia.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

يُوْشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجَارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ. أَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَتَقُوْلُوْنَ: قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ

“Hampir saja kalian ditimpa hujan batu dari langit. Aku mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” tetapi kalian mengatakan, “Abu Bakar dan Umar berkata.”

Imam Abu Hanifah pernah berkata,

إِذَا قُلْتُ قَوْلاً يُخَالِفُ كِتَابَ اللهِ تَعَالَى وَخَبَرَ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاتْرُكُوْا قَوْلِيْ

“Jika aku mengatakan sebuah perkataan yang menyelisihi kitab Allah Ta’ala dan berita dari Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku.”

Imam malik pernah berkata,

لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلاَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidak ada seorang pun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan pendapatnya boleh diambil dan ditinggalkan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Imam Syafi’i pernah berkata,

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةٌ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ

“Kaum muslim sepakat, bahwa barang siapa yang telah jelas baginya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya meninggalkannya karena pendapat seseorang.”

Imam Ahmad pernah berkata,

مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

“Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia berada di tepi jurang kebinasaan.”

  1. Menjadikan Beliau sebagai hakim terhadap semua masalah yang diperselisihkan.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisaa’: 65)

  1. Bershalawat dan salam kepadanya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al Ahzaab: 56)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang ketika disebut namaku di dekatnya, namun tidak mau bershalawat kepadaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Hakim, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2878).

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

 

 

Adab Terhadap Orang Tua

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata: Aku berusaha mengajak ibuku masuk Islam ketika ia masih musyrik. Suatu hari, aku mengajaknya (masuk Islam), lalu ia mengatakan kata-kata yang tidak aku sukai tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku mengajak ibuku masuk Islam, namun ia menolak. Pada hari ini, aku ajak lagi ia (masuk Islam), lalu ia malah berkata-kata tentangmu perkataan yang aku tidak sukai. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Lalu aku pergi dengan gembira karena doa Nabiyyullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika aku datang dan telah berada di dekat pintu, tiba-tiba pintu itu merenggang, ternyata ibuku mendengar langkah cepat kakiku, lalu ia berkata, “Diamlah di tempatmu wahai Abu Hurairah.” Aku mendengar bunyi siraman air, ibuku mandi dan memakai baju gamisnya dengan cepat sehingga kerudungnya tertinggal, lalu ia membuka pintu dan berkata, “Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Maka aku kembali menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendatanginya dalam keadaan menangis karena terharu, aku katakan, “Wahai Rasulullah, bergembiralah. Allah telah mengabulkan doamu dan telah memberi hidayah kepada ibu Abu Hurairah.” Maka Beliau memuji Allah dan menyanjungnya serta berkata, “Baguslah.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku dan ibuku cinta kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin dan agar mereka mencintaiku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, jadikanlah hamba kecil-Mu ini -yakni Abu Hurairah- dan ibunya cinta kepada hamba-hamba-Mu yang mukmin dan jadikanlah kaum mukmin cinta kepada mereka.” Oleh karena itu, tidak ada seorang mukmin pun yang dicipta yang mendengar tentangku atau melihatku kecuali akan cinta kepadaku.”

Adab Terhadap Orang Tua

Kedua orang tua merupakan sebab adanya manusia. Keduanya telah merasakan kelelahan karena mengurus anak dan menyenangkan mereka. Allah Subhaanahu wa Ta’aala mewajibkan hamba-hamba-Nya berbakti kepada kedua orang tua, firman-Nya,

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”(Terj. Luqman: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong untuk berbakti kepada kedua orang tua, Beliau bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ وَيُزَادَ لَهُ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya dan ditambahkan rezekinya, maka berbaktilah kepada kedua orang tuanya dan sambunglah tali silaturrahim.” (Al Haitsami dalam Al Majma’ berkata, “Hadits tersebut ada dalam kitab shahih tanpa kata berbakti kepada orang tua, tetapi diriwayatkan oleh Ahmad dan para perawinya adalah perawi hadits shahih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ

“Hinalah ia, hinalah ia dan hinalah ia.” Lalu ada yang bertanya, “Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang mendapatkan orang tuanya sudah tua; salah satunya atau kedua-duanya tetapi ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim berbakti kepada kedua orang tuanya dan bergaul dengan sikap yang baik. Di antara adab bergaul dengan orang tua adalah sbb.:

  1.    Mencintai dan sayang kepada kedua orang tua.

Seorang muslim menyadari bahwa kedua orang tuanya memiliki jasa yang besar terhadapnya, karena keduanya telah mengerahkan pikiran dan tenaga untuk menyenangkan anaknya. Oleh karena itu, meskipun seorang muslim telah mengerahkan segala kemampuannya dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, namun tetap saja ia belum dapat membalasnya.

  1.    Menaati keduanya.

Seorang muslim hendaknya menaati perintah kedua orang tuanya, kecuali apabila kedua orang tua menyuruh berbuat maksiat kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(Terj. Luqman: 15)

Oleh karena itu, ketika Sa’ad bin Abi Waqqash masuk Islam, ibunya mogok makan dan minum sampai Sa’ad mau murtad dari agamanya, tetapi ia tetap di atas Islam dan tidak mau murtad, ia menolak taat kepada ibunya dalam hal maksiat kepada Allah, sampai ia berkata kepadanya, “Wahai ibu, engkau (mesti) tahu, demi Allah, jika engkau memiliki seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku. Jika engkau mau silahkan makan atau tidak makan.” Akhirnya ibunya makan.

  1.    Menanggung dan menafkahi orang tua.

Seorang muslim juga hendaknya menanggung dan menafkahi orang tua agar ia memperoleh keridhaan Allah. Jika ia seorang yang berharta banyak, lalu orang tuanya butuh kepada sebagian harta itu, maka ia wajib memberikannya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي مَالًا وَوَلَدًا وَإِنَّ أَبِي يُرِيدُ أَنْ يَجْتَاحَ مَالِي فَقَالَ أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

Dari Jabir bin Abdillah, bahwa seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta dan anak, sedangkan bapakku ingin menghabiskan hartaku.” Maka Beliau bersabda, “Engkau dan hartamu adalah milik bapakmu.” (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat Al Irwa’ (838) dan Ar Raudhun Nadhir (195 dan 603))

 

4. Berbuat baik kepada keduanya

Seorang muslim berusaha untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya meskipun keduanya non muslim. Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Ibuku pernah datang kepadaku dalam keadaan musyrik di masa Quraisy ketika Beliau mengadakan perjanjian (damai) dengan mereka, lalu aku meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, aku berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku karena berharap (bertemu) denganku. Bolehkah aku sambung (hubungan) dengan ibuku?” Beliau menjawab, “Ya. Sambunglah (hubungan) dengan ibumu.” (HR. Muslim)

  1.    Menjaga perasaan keduanya dan berusaha membuat ridha orang tuanya

Seorang muslim juga harus menjauhi ucapan atau tindakan yang menyakitkan hati orang tuanya meskipun sepele, seperti berkata “Ah.” Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Terj. Al Israa’: 23)

Hendaknya ia mengetahui, bahwa ridha Allah ada pada keridhaan orang tua, dan bahwa murka-Nya ada pada kemurkaan orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ وَ سُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah ada pada keridhaan orang tua dan murka Allah ada pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Abdullah bin ‘Amr, dan Al Bazzar dari Ibnu Umar, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3506)

  1.    Tidak memanggil orang tua dengan namanya

Seorang anak hendaknya memanggil orang tuanya tidak dengan namanya. Oleh karena itu, ia panggil bapaknya “Abi” dan ia panggil ibunya “Ummi.” Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah melihat ada dua orang, lalu ia bertanya kepada salah satunya tentang hubungannya dengan yang satu lagi, ia berkata, “Ia adalah bapakku.” Maka Abu Hurairah berkata, “Janganlah kamu panggil ia dengan namanya, jangan berjalan di depannya dan jangan duduk sebelumnya.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al Adabul Mufrad).

  1.    Tidak duduk ketika keduanya berdiri dan tidak mendahuluinya dalam berjalan

Tidaklah termasuk adab yang baik kepada kedua orang tua jika seorang anak duduk sedangkan ibu-bapaknya berdiri atau meluruskan kedua kakinya, sedangkan keduanya duduk di hadapannya, bahkan hendaknya ia memiliki adab yang baik di hadapannya dan merendahkan diri kepada keduanya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Terj. Al Israa’: 24)

  1.    Meminta izin kepada kedua orang tua ketika hendak keluar berjihad

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ فَقَالَ أَحَيٌّ وَالِدَاكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Dari Abdullah bin ‘Amr ia berkata, “Seorang laki-laki datang  kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta izin untuk berjihad, lalu Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Kepada keduanyalah kamu hendaknya berjihad (bersungguh-sungguh dalam berbakti).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini apabila jihadnya fardhu kifayah, tetapi jika jihadnya fardhu ‘ain seperti musuh menyerang negerinya, maka tidak disyaratkan meminta izin.

  1.    Tidak mengutamakan istri dan anak daripada kedua orang tua

Hal ini berdasarkan hadits yang menyebutkan tentang tiga orang Bani Israil yang berjalan-jalan di gurun, lalu mereka terpaksa bermalam di gua. Ketika mereka masuk ke dalamnya, tiba-tiba ada sebuah batu besar yang jatuh dari atas gunung sehingga menutupi pintu gua itu, lalu mereka berusaha menyingkirkan batu tersebut, tetapi mereka tidak bisa, maka akhirnya mereka berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal saleh yang pernah mereka lakukan. Salah seorang di antara mereka berkata, “Ya Allah, saya memiliki kedua orang tua yang sudah lanjut usia dan saya biasanya tidak memberi minuman kepada keluarga dan harta yang saya miliki (seperti budak) sebelum keduanya. Suatu hari saya pernah pergi jauh untuk mencari sesuatu sehingga saya tidak pulang kecuali setelah keduanya tidur, maka saya perahkan susu untuk keduanya, namun saya mendapatkan keduanya telah tidur dan saya tidak suka memberi minum sebelum keduanya baik itu keluarga maupun harta (yang aku miliki). Aku menunggu, sedangkan gelas masih berada di tanganku karena menunggu keduanya bangun sehingga terbit fajar. Keduanya pun bangun lalu meminum susu itu. Ya Allah, jika yang aku lakukan itu karena mengharapkan wajah-Mu, maka hilangkanlah derita yang menimpa kami karena batu ini,” yang lain juga menyebutkan amal saleh mereka yang ikhlas yang pernah mereka lakukan, sehingga batu besar itu pun bergeser dan mereka dapat keluar.

  1.    Mendoakan keduanya baik mereka masih hidup atau sudah wafat

Demikianlah seharusnya sikap yang seharusnya dilakukan seorang muslim terhadap kedua orang tuanya, yakni banyak mendoakan kedua orang tuanya, dan itulah akhlak para nabi; mereka berbakti kepada kedua orang tuanya dan mendoakan kebaikan kepada mereka. Nabi Nuh ‘alaihis salam pernah berdoa untuk orang tuanya sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an surat Nuh: 28:

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” (Terj. Nuh: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَنَّى هَذَا فَيُقَالُ بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesunguhnya seseorang benar-benar diangkat derajatnya di surga, lalu ia berkata, “Karena apa ini?” Lalu dikatakan kepadanya, “Karena permintaan ampun anakmu untukmu.” (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah 1598 dan Al Misykat 2354/tahqiq ke-2)

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim mendoakan ampunan untuk kedua orang tuanya, membayarkan hutang dan nadzarnya, dsb.

10.Berbuat baik kepada kawan-kawan orang tua setelah orang tua telah wafat

Dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar, bahwa seseorang dari kalangan Arab baduwi pernah ditemuinya di jalan menuju Mekah, lalu Abdullah mengucapkan salam kepadanya dan menaikkannya ke atas keledai yang ditungganginya dan memberikan sorban yang dipakainya kepadanya. Abdullah bin Dinar berkata: Kami pun berkata, “Semoga Allah memperbaikimu, sesungguhnya mereka adalah orang-orang Arab baduwi, mereka biasanya puas dengan perkara yang sedikit, lalu Abdullah berkata, “Sesunggunya bapak orang ini adalah teman Umar bin Khaththab, dan sesungguhnya aku mendengar  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya berbakti yang paling baik adalah ketika seorang anak menyambung hubungan dengan kawan-kawan bapaknya.” (HR. Muslim)

Demikianlah adab terhadap orang tua, semoga Allah Subhaanahu wa Ta’aala memudahkan kita untuk dapat melakukannya.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalaah.

 

 

 

Adab Menuntut Ilmu (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:

Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan ayat yang pertama turun adalah ayat yang mengajak untuk belajar. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (Terj. Al ‘Alaq: 1)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala juga sampai bersumpah dengan sarana untuk memperoleh ilmu, yaitu pena. Dia berfirman, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (Terj. Al Qalam: 1)

As Sunnah juga menguatkan kedudukan ilmu sampai-sampai menjadikan usaha ntuk memperoleh ilmu sebagai jalan ke surga. Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Bahkan pahala ilmu akan terus mengalir setelah pemiliknya wafat. Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Para penuntut llmu juga merupakan wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana para pengajar diperintahkan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda,

سَيَأْتِيْكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُوْنَ الْعِلْمَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُمْ فَقُوْلُوْا لَهُمْ   مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُوْلِ اللهِ وَ أَفْتُوْهُمْ

“Akan datang kepadamu orang-orang yang mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka, ucapkanlah kepada mereka, “Selamat datang kepada wasiat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam”, dan berlah fatwa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa’id, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3651)

Ilmu juga merupakan jalan bagi seorang muslim untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, ahli lmu adalah orang yang paling takut kepada Allah (lihat surat Fathir: 28).

Pembagian ilmu

Ilmu terbagi menjadi dua bagian; fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.

Fardhu ‘ain adalah ilmu yang setap muslim wajib mengetahuinya, seperti ilmu tentang Tuhannya, agamanya dan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun yang fardhu kifayah adalah llmu yang harus ada di kalangan kaum muslimin untuk menopang kehidupan mereka, seperti ilmu kedokteran, industri, dsb.

Adab menuntut ilmu

Dalam menuntut ilmu ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, namun sebelumnya perlu kiranya dketahui tentang pentingnya adab tersebut.

Burhanuddin Az Zarnuuji berkata, “Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.”

Ibnul Mubarak berkata, “Aku belajar ilmu selama dua puluh tahun, dan aku belajar adab ilmu selama tiga puluh tahun.”

Ibnul Kharrath Al Isybiliy menyebutkan dari sebagian ahli ilmu, ia berkata, “Janganlah meremehkan adab, karena barang siapa yang meremehkan adab, maka ia akan meremehkan sunnah-sunnah, dan barang siapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan meremehkan yang wajib-wajib.”

Adab Penuntut Ilmu

Berikut ini beberapa adab penuntut ilmu yang perlu diperhatikan:

  1. Jujur dan ikhlas.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119)

Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)

Nab shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberitahukan, bahwa orang yang pertama kali menjadi bahan bakar neraka adalah tiga orang, yang salah satunya adalah orang yang belajar agama dan mengajarkannya agar disebut sebagai orang ‘alim, dan orang yang membaca Al Qur’an agar disebut qari’ (sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim),  nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu meniatkan di hatinya untuk menggapai ridha Allah dan mendapatkan kampung akhirat, menyingkirkan kebodohan dari dirinya serta menghilangkan kebodohan yang menimpa orang lain. Dia pun hendaknya berniat untuk menegakkan agama Islam dan menjaganya, karena Islam terjaga dengan ilmu. Sikap zuhud dan takwa pun tidak mungkin dicapai dengan kebodohan.

  1. Mencari ilmu yang bermanfaat

Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu ‘Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa’i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1297).

Seorang penyair berkata,

مَا أَكْثَـرُ الْعِلْـمَ وَمَــا أَوْسَعَــهُ
مَنْ ذَا الَّـذِيْ يَقْــدِرُ أَنْ يَجْمَعَـهُ
إِنْ كُنْـتَ لاَ بـُدَّ لَـهُ طَـالِــبًا
مُحَاوِلاً، فَالْتَمِــسْ أَنْفَعَــــــــهُ

Alangkah banyak ilmu itu dan alangkah luasnya

Siapakah yang dapat mengumpulkannya

Jika kamu harus mencari dan berusaha kepadanya,

Maka carilah yang bermanfaat darinya.

  1. Menyiapkan alat tulisnya.

Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya di antara penyebab terhalangnya ilmu adalah menghadiri majlis ilmu tanpa menyalinnya.”

Ada yang berkata, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Ada pula yang berkata, “Ilmu itu binatang buruan, dan talinya adalah mencatat.”

Ada atsar (riwayat) dari Thawus, bahwa ketika ia menghadiri (majlis) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, maka ia selalu menulis, sampai suatu ketika ia tidak memperoleh sesuatu untuk menulis, maka ia menulis di tangannya.”

  1. Fokus kepada ilmu tersebut.

Ada seorang yang berkata,

الْعِلْمُ لاَ يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ

“Ilmu tidak akan memberikan sebagiannya kepadamu sampai kamu memberikan bagianmu semua kepadanya.”

  1. Membersihkan jiwa dari akhlak yang buruk.

Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dari Allah yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu menjauhi dirinya dari hasad, riya’, ‘ujub, dan semua akhlak tercela. Imam Syafi’i berkata,

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ

فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِى

فَإِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ

وَفَضْلُ اللهِ لاَ يُعْطَى لِعَاصِى

Aku pernah mengeluh kepada Waki’ tentang buruknya hapalanku,

Maka ia menunjukiku agar meninggalkan maksiat

Karena hapalan adalah karunia Allah

Dan karunia Allah itu tidak diberikan kepada pelaku maksiat.

  1. Manfaatkanlah usia muda untuk menuntut ilmu, meskipun usia tua bukan penghalang menuntut ilmu.

Hal itu, karena belajar di masa kecil seperti mengukir di atas batu, sedangkan belajar di masa tua seperti mengukir di atas air, karena disibukkan oleh banyak urusan. Meskipun begitu, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berkuasa menjadikan seseorang kuat hapalan walaupun usianya telah lanjut.

  1. Hendaknya penuntut ilmu hadir dalam keadaan yang rapi dan baik.

Oleh karena itu, hendaknya ia tidak datang dalam keadaan menahan buang air, lapar, pikiran sedang risau dan sebagainya.

  1. Bekerja tidaklah menghalangi untuk belajar.

Para sahabat semuanya bekerja, namun setelah mereka bekerja, maka sisa waktunya mereka gunakan untuk belajar agama. Abu Sa’id berkata, “Kami berperang dan membiarkan seorang atau dua orang untuk mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu keduanya menceritakan kepada kami sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami juga menceritakan; kami katakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda.” (HR. Ibnu ‘Asakir).

  1. Bertahap dalam menuntut ilmu.

Hendaknya seorang penuntut ilmu mendahulukan yang terpenting di antara sekian ilmu, seperti ilmu tentang ‘Aqidah dan ibadah, serta yang dibutuhkan pada saat itu.

  1. Harus sabar.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Yahya bin Katsir, ia berkata, “Ilmu tidaklah diperoleh dengan jiwa-raga yang santai.

Imam Syafi’i pernah berkata,

أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّئُكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَدِرْهَمٍ وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ

“Saudaraku, kamu tidak akan mencapai ilmu kecuali dengan enam perkara, aku akan terangkan dengan jelas, yaitu: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, ada dirham (biaya), didampingi guru, dan waktu yang lama.”

  1. Demikian juga hendaknya seorang murid, tidak memilih jenis ilmu menurut dirinya sendiri. Bahkan hendaknya ia serahkan masalah itu kepada guru. Karena guru memiliki pengalaman tentang hal itu.
  2. Duduk yang sopan. Oleh karena itu, hendaknya ia tidak bersandar. Demikian juga hendaknya ia tidak duduk dengan duduk orang yang sombong, yaitu dengan menaruh kaki yang satu di atas kaki yang lain.
  3. Hendaknya ia bertanya dengan baik, dan lebih baik lagi jika ia awali dengan mendoakannya, seperti mengucapan “Semoga Allah mengampuni engkau” dan menggunakan kata-kata yang lembut terhadapnya.

Imam Malik berkata, “Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf pernah mendebat Ibnu Abbas sehingga banyak ilmu yang terhalang baginya.” Adh Dhahhak berkata, “Aku tidaklah mengambil ilmu ini dari para ulama kecuali dengan bersikap lembut kepada mereka.”

  1. Tidak malu dalam bertanya.

Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (Terj. QS. An Nahl: 43)

Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, dimana rasa malu tidak menghalangi mereka belajar agama.”

Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu bertanya, karena ilmu itu perbendaharaan, sedangkan kuncinya adalah bertanya.

Meskipun begitu, hendaknya ia tidak banyak bertanya kecuali jika dibutuhkan, tentunya dengan sikap sopan dan beradab.

  1. Hadir di majlis sebelum guru datang.
  2. Tidak memotong pembicaraannya.
  3. Hendaknya ia memuliakan guru tanpa berlebihan. Hal itu, karena ia membawa kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Diam memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru.

Sufyan Ats Tsauriy rahimahullah pernah berkata:

اَوَّلُ الْعِلْمِ اْلإِسْتِمَاعُ ثُمَّ الْإِنْصَاتُ ثُمَّ الْحِفْظُ ثُمَّ الْعَمَلُ ثُمَّ النَّشْرُ

“Ilmu diawali dengan mendengarkan, lalu memperhatikan, kemudianmenghapalnya, lalu mengamalkan kemudian menyebarkan.”

 

  1. Memurajaah ilmu yang ia peroleh dari guru.

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah rasa takut, mencarinya adalah ibadah, mengingat-ingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah dan memberikan kepada orang yang berhak adalah sebuah pendekatan diri kepada Allah.”

  1. Hendaknya waktunya lama.

Imam Ahmad berkata, “(Menuntut ilmu) dari tempat tinta sampai ke tempat kubur.”

  1. Hendaknya memperhatikan tiga perkara dalam ilmu, yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan Tauhid.
  2. Hendaknya ia tidak banyak berdehem atau banyak bertingkah, dan tidak bersiwak di majlis ilmu. Demikian juga hendaknya ia tidak banyak tertawa, tidak bercakap-cakap dengan kawannya, tidak merendahkan saudaranya atau mengolok-olok mereka, karena mereka adalah saudaranya.
  3. Berusaha tidak mengantuk.
  4. Tidak banyak meminta pengulangan kepada guru.
  5. Buah dari ilmu adalah mengamalkannya dan menyampaikannya.

Allah Subhaanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengamalkanilmu mereka dan menyerupakan mereka seperti keledai yang memikul kitab-kitab, namun tidak paham isinya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Terj. QS. Al Jumu’ah: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْئَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَ

“Tidaklah bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya, untuk apa ia berbuat, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia keluarkan, serta tentang badannya untuk apa ia letihkan?” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7300)

  1. Hendaknya ia berusaha mengikat dhawabith (kaidah dalam satu masalah) dan kaidah kulliyyah (yang menyeluruh), memilah hadits yang shahih dengan yang dha’if dan mencatat masalah-masalah furu’.
  2. Jika seorang penuntut ilmu hendak pindah ke guru yang lain, hendaknya ia beritahukan, dan bahwa berpindahnya itu bukan maksudnya karena merasa tidak butuh kepadanya, dan hal ini dilakukan dengan penuh adab dan hormat.
  3. Hendaknya ia menjauhi berbicara dengan guru menggunakan kalimat yang menunjukkan kesombongan, seperti “menurut saya” atau “saya lebih menguatkannya,” dsb.
  4. Jika seorang guru salah ucap tanpa disadari, maka silahkan meluruskan dengan penuh hormat.
  5. Hendaknya ketika ia berdahak atau bersin tidak mengeraskan suaranya. Dan untuk bersin, hendaknya ia tutup mukanya dengan bajunya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Abu Dawud dan Hakim dengan sanad shahih).
  6. Hendaknya ia tidak mendesak seorang guru ketika guru sedang lelah.
  7. Tidak patut bagi penuntut ilmu memutuskan penjelasan guru ketika menerangkan pelajaran.
  8. Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya mendapatkan ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Setiap kali aku paham dan diberitahukan fiqh dan hikmah, aku berkata “Al Hamdulillah”, maka bertambahlah ilmuku.”

Demikianlah sepatutnya seorang penuntut ilmu, ia menyibukkan diri dengan bersyukur baik dengan lisan, hati, anggota badan maupun keadaan. Dia yakin bahwa pemahaman, ilmu dan taufiq yang didapatkannya adalah berasal dari Allah Ta’ala. Ia pun meminta hidayah-Nya dengan berdoa dan bertadharru’ (merendahkan diri) kepada-Nya, karena Allah Ta’ala akan menunjuki orang yang meminta hidayah kepadanya.

  1. Demikian juga hendaknya ia membaca buku-buku tentang adab menuntut ilmu, seperti Tadzkiratus saami’ wal mutakallim fii aadabil ‘aalim wal muta’allim karya Badruddin bin Jama’ah, Ta’limul Muta’allim (namun ada beberapa kekeliruan di dalamnya dan hadits-haditsnya juga banyak yang dha’if), Adabul ‘aalim wal muta’allim oleh Imam Nawawi yaitu pada kitab Al Majmu’nyaHilyah Thalibil ‘Ilmioleh Syaikh Bakar Abu Zaid dan bagian awal kitab Jami’ul ilmi wa fadhluh oleh Ibnu ‘Abdil Barr.

 

Kaum salaf dalam menuntut ilmu

Setelah Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, maka Ibnu ‘Abbas banyak bertanya kepada para sahabat Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang disabdakan Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap kali ia mengetahui ada seorang yang mengetahui hadits Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia segera pergi kepadanya. Jika ia mendapati sahabat tersebut sedang tidur siang, maka ia duduk di pintunya dan menunggunya hingga bangun, sampai-sampai ia tertimpa debu-debu yang diterbangkan oleh angin yang bertiup di gurun. Ketika sahabat itu keluar dan melihat Ibnu ‘Abbas, maka ia berkata, “Wahai keponakan Rasulllah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa engkau datang ke sini? Tidakkah engkau kirim seseorang kepadaku, biarlah aku yang datang kepadamu?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tidak, saya lebih berhak datang kepadamu untuk menanyakan hadits kepadamu?” (HR. Hakim)

Jabir bin Abdillah berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang ia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku beli seekor unta untuk pergi mendatanginya, maka aku pergi kepadanya dalam waktu sebulan hingga aku sampai di Syam, lalu aku mendapatinya yaitu Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu, maka aku berkata kepada penjaga pintu, “Katakan kepadanya bahwa Jabir ada di pintu.” Maka Abdullah bin Unais berkata, “Apakah putera Abdullah?” Aku menjawab, “Ya.” Maka ia pun segera keluar menemuinya, lalu ia memelukku dan aku pun memeluknya, maka aku berkata, “Ada sebuah hadits yang sampai kepadaku darimu; bahwa engkau mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishas, maka aku khawatir kamu wafat atau aku wafat sebelum aku mendengarnya, maka Abdulllah bin Unais menyampaikan hadits itu kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani)

Ubaidullah bin ‘Addiy berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits yang ada pada ‘Ali (bin Abi Thalib), maka aku khawatir jika ia wafat, lalu aku tidak memperolehnya pada orang lain. Oleh karena itu, aku mengadakan perjalanan untuk menemuinya sehingga aku menemuinya di Irak.” (Diriwayatkan oleh Al Khathib)

Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau sekiranya ada orang yang dapat dicapai oleh unta, dimana orang tersebut ternyata lebih tahu tentang apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku akan mendatanginya sehingga ilmuku bertambah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir)

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

 

 


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: