Oleh: kang Ja'far | 5 September 2016

Karakter Siswa Berbakat Matematika

Karakter siswa berbakat matematika mencakup aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Berikut ini adalah karakter utama siswa berbakat matematika:

Cepat belajar akan hal baru
fleksibel dan unik dalam memecahkan masalah dan menyampaikan ide
pemahaman dan observasi yang mendalam
kegigihan dalam bekerja/berpikir
percaya diri dan berani mengambil resiko
terampil mengaplikasi ke situasi yang baru
berpikir abstrak dan efisien
intuisi yang tajam
berpikir strategis daripada prosedural

Cara mengidentifikasi bakat, potensi, dan kemampuan matematis yang tinggi:
Observasi. Pengamatan yang dilakukan saat siswa bekerja, khususnya saat memecahkan masalah yang tingkat kesulitannya meningkat atau yang didesain untuk mendapatkan karakteristik siswa yang berkemampuan matematis tinggi.
Portofolio. Analisis terhadap kemampuan siswa pada portofolionya mencakup karakteristik kemampuan siswa dengan kemampuan matematis yang tinggi.
Interview atau wawancara dengan siswa
Informasi dari orang tua
Survei pada siswa
Penilaian yang terus menerus (on-going assessment)

Kesulitan Belajar Matematika
Kesulitan belajar matematika tidak semata-mata pada keterampilan berhitung, namun juga kesulitan dalam belajar dan menerapkan konsep dan keterampilan matematika.

Berdasarkan urgensinya, kesulitan belajar matematika dikategorikan menjadi 2:

kesulitan berhitung
kesulitan memecahkan masalah matematika

Jenis Kesulitan Belajar
Beberapa jenis kesulitan belajar matematika yang penting sebagai berikut:

a) Memory (memori)

Kemampuan mengingat siswa akan mempengaruhi kecepatan belajarnya. Jika siswa begitu kesulitan dalam mengingat fakta dasar dan aturan dasar, apalagi lambang atau simbol matematika, maka sangat mungkin siswa tersebut mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Begitu juga jika siswa mengalami kesulitan mengingat urutan atau prosedur, maka ia tidak akan mampu memecahkan masalah matematika yang setidaknya memuat suatu prosedur atau algoritma matematika.

b) Reasoning and Logical Thinking (penalaran dan berpikir logis)

Kelemahan siswa dalam berpikir nalar dan logis sudah barang tentu menghambat kemampuan matematikanya secara menyeluruh.Tidak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan matematika di Indonesia jarang membina keterampilan berpikir logis atau bernalar bagi siswa.Dengan demikian jenis ketidakmampuan belajar ini dapat diduga mendera hampir kebanyakan siswa di Indonesia.

c) Visual-Spatial Relationship (relasi visual-spasial)

Kelemahan dalam keterampilan visual dan spasial (keruangan) juga menghambat kemampuan matematika, misalnya dalam kesulitan memahami pecahan, kebingungan terkait letak titik pada sistem desimal, bentuk bangun (baik dimensi dua, lebih-lebih dimensi tiga), dan ketidakmampuan membaca pola sederhana dari gambar dan tulisan.

(copas modul A – GP)


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: