KESULITAN BELAJAR SISWA

Kesulitan belajar (learning difficulty) dalam modul ini dibedakan dengan ketidakmampuan belajar (learning disability).Kesulitan belajar merupakan istilah yang lebih bersifat umum, sementara ketidakmampuan belajar merupakan salah satu jenisnya.

Secara sederhana, kesulitan belajar dapat dinyatakan sebagaimana literatur berikut: Dalam keadaan di mana anak didik/siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut dengan “kesulitan belajar” (Abu & Widodo, 1991: 74). Namun demikian, ada beberapa literatur yang mendeskripsikan kesulitan belajar dari sudut pandang tertentu, misalnya bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar (Syaiful B. Djamarah, 2011: 235), atau kesulitan belajar ialah kesukaran yang dialami siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran, kesulitan belajar yang dihadapi siswa ini terjadi pada waktu mengikuti pelajaran yang disampaikan/ditugaskan oleh seorang guru. (Alisuf, 1996: 88).
Dalam modul ini, kesulitan belajar didefinisikan secara sederhana yaitu siswa tidak mampu belajar sebagaimana mestinya.Jadi, siswa mengalami kesulitan yang utamanya berasal dari dalam diri siswa, namun demikian faktor-faktor kesulitan itu dapat saja berasal dari luar diri siswa tersebut. Dengan demikian, kegaduhan di luar kelas, guru yang tidak responsif, dan semacamnya walaupun menjadi faktor gangguan belajar, tidak termasuk pada ranah kesulitan belajar siswa. ==========> file pdf lengkap

Iklan

Karakter Siswa Berbakat Matematika

Karakter siswa berbakat matematika mencakup aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Berikut ini adalah karakter utama siswa berbakat matematika:

Cepat belajar akan hal baru
fleksibel dan unik dalam memecahkan masalah dan menyampaikan ide
pemahaman dan observasi yang mendalam
kegigihan dalam bekerja/berpikir
percaya diri dan berani mengambil resiko
terampil mengaplikasi ke situasi yang baru
berpikir abstrak dan efisien
intuisi yang tajam
berpikir strategis daripada prosedural

Cara mengidentifikasi bakat, potensi, dan kemampuan matematis yang tinggi:
Observasi. Pengamatan yang dilakukan saat siswa bekerja, khususnya saat memecahkan masalah yang tingkat kesulitannya meningkat atau yang didesain untuk mendapatkan karakteristik siswa yang berkemampuan matematis tinggi.
Portofolio. Analisis terhadap kemampuan siswa pada portofolionya mencakup karakteristik kemampuan siswa dengan kemampuan matematis yang tinggi.
Interview atau wawancara dengan siswa
Informasi dari orang tua
Survei pada siswa
Penilaian yang terus menerus (on-going assessment)

Kesulitan Belajar Matematika
Kesulitan belajar matematika tidak semata-mata pada keterampilan berhitung, namun juga kesulitan dalam belajar dan menerapkan konsep dan keterampilan matematika.

Berdasarkan urgensinya, kesulitan belajar matematika dikategorikan menjadi 2:

kesulitan berhitung
kesulitan memecahkan masalah matematika

Jenis Kesulitan Belajar
Beberapa jenis kesulitan belajar matematika yang penting sebagai berikut:

a) Memory (memori)

Kemampuan mengingat siswa akan mempengaruhi kecepatan belajarnya. Jika siswa begitu kesulitan dalam mengingat fakta dasar dan aturan dasar, apalagi lambang atau simbol matematika, maka sangat mungkin siswa tersebut mengalami kesulitan dalam belajar matematika. Begitu juga jika siswa mengalami kesulitan mengingat urutan atau prosedur, maka ia tidak akan mampu memecahkan masalah matematika yang setidaknya memuat suatu prosedur atau algoritma matematika.

b) Reasoning and Logical Thinking (penalaran dan berpikir logis)

Kelemahan siswa dalam berpikir nalar dan logis sudah barang tentu menghambat kemampuan matematikanya secara menyeluruh.Tidak dapat dipungkiri, bahwa pendidikan matematika di Indonesia jarang membina keterampilan berpikir logis atau bernalar bagi siswa.Dengan demikian jenis ketidakmampuan belajar ini dapat diduga mendera hampir kebanyakan siswa di Indonesia.

c) Visual-Spatial Relationship (relasi visual-spasial)

Kelemahan dalam keterampilan visual dan spasial (keruangan) juga menghambat kemampuan matematika, misalnya dalam kesulitan memahami pecahan, kebingungan terkait letak titik pada sistem desimal, bentuk bangun (baik dimensi dua, lebih-lebih dimensi tiga), dan ketidakmampuan membaca pola sederhana dari gambar dan tulisan.

(copas modul A – GP)

Ciri-Ciri Siswa Berbakat Matematika

Bagaimana ciri-ciri siswa berbakat matematika?

Ada beberapa pendapat ahli, diantaranya adalah pendapat Elliott, Sheffield, Johnsen.

Menurut Elliott, ciri-ciri siswa berbakat matematika adalah siswa mampu:

Menyatakan masalah secara spontan
Menangani data secara fleksibel
Lancar menyampaikan ide
Mampu mengorganisasi data
Orisinal dalam menafsirkan
Cepat belajar konsep yang baru
Terampil mengobservasi dan mendalam
Terampil membuat pertanyaan yang bermutu
Memiliki pemahaman yang mendalam
Memiliki pemecahan masalah yang unik
Mampu membuat kesimpulan dari suatu pola
(copas modul – A-GP)

Ciri-Ciri Siswa Berbakat Akademik

Pernahkah Anda mengamati siswa Anda? Dapatkah Anda mengidentifikasi ciri-ciri siswa Anda yang berbakat?

Ada beberapa pendapat ahli tentang ciri-ciri siswa berbakat, diantaranya adalah pendapat Elliott. Berikut ini adalah ciri-ciri siswa berbakat akademik:

Berargumentasi dengan baik (pemikir yang ulung)
Belajar dengan cepat
Memiliki perbendaharaan kata yang banyak
Memiliki ingatan yang menakjubkan
Memiliki perhatian yang tajam dan lama
Berperasaan sensitive
Menunjukkan kesempurnaan
Sensitif secara moral
Keingintahuan yang kuat
Gigih dengan apa yang diminati
Memiliki energi yang tinggi
Kelihatan kurang sinergis dengan teman sebaya dan terbuka dengan orang dewasa
Memiliki minat yang luas
Memiliki selera humor yang tinggi
Menjadi pengamat yang tekun
Memiliki kreativitas tinggi
Memiliki imajinasi yang menggelora
Mahir dengan angka-angka
Mudah mengingat dengan latihan yang singkat
Mudah melihat pola, hubungan, atau pandangan berbeda
Mudah memperluas ide, solusi, teori, atau penjelasan
Memiliki respon yang unik dan tidak biasa
Dapat bekerja independen
Menunjukkan kebijaksanaan melampaui umurnya
Bekerja lebih cepat
Memiliki pertanyaan atau masalah yang berbeda
(copas modul A – GP)

PTK “ditolak”? …. kaji “buku 5”

PTK adalah suatu kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta untuk memperbaiki kondisi dimana praktek pembelajaran tersebut dilakukan.( Joni& Tisno: 1998)
PTK adalah suatu proses dimana melalui ini dosen dan mahasisiwa menginginkan terjadinya perbaikan, peningkatan dan perubahan pembelajaran yang lebih baik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.( Soedarsono: 2001)
PTK adalah penelitian praktis yang dimaksudkan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas.
Dengan kata lain: PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas:
Ada 2 jenis PTK yaitu PTK individu dan kolaborasi
KaraKteristiK PtK :
1. On the job problem oriented Artinya bahwa PTK dilaksanakan oleh pekerja sesuai dengan bidang yang ditekuninya, misalnya seorang guru geografi yang hendaknya mengadakan PTK dengan tema pembelajaran Geografi.
2. Problem Solving oriented Mengandung makna bahwa PTK dilakukan untuk memecahkan masalah yang ada dalam Proses Belajar Mengaja (PBM) oleh guru.
3. Improvement oriented Bahwa PTK dilaksanakan untuk memperbaiki proses pembelajaran
4. Multidata oriented PTK harus dilakukan dengan praktik dalam PBM.
5. Specific Contextual PTK dilaksanakan benar-benar masalah yang dialami guru dalam PBM.
6. SikluS Pelaksanaan dilaksanakan berulang ulang dan Continue. Meliputi: (1) perencanaan atau planning, (2) pelaksanaan tindakan
atau acting, dan (3) pengamatan dan refleksi atau observasingreflekting.
7. Kolaboratif  Dapat dilaksanakan bersama orang atau guru lain namun masih dalam 1 rumpun ilmu
8. Metodologi bersifat longgar. Maksudnya bahwa PTK tidak harus mengginakan pengolahan data statistik yang rumit, cukup dengan analisis deskriptif. Instrumen yang digunakan juga tidak harus diuji reabilitas, normalitas, atau validitas. Namun instrumen dapat diuji dengan uji triangulasi atau crosscheck atau perbandingan dengan cara atau instrumen lain.
Manfaat PtK :
1. Guru menjadi dan peka terhadap masalah
2. Terjalinnya kerjasama untuk meningkatkan mutu KBM
3. Perhatian terhadap siswa terus menerus
4. Mutu diri dan kinerja
5. Capai tujuan KBM
PrinsiP PTK (HoPKins, 1993) :
1. Tidak menggangu komitmen dan tugas utama guru yaitu
menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas
2. Melaksanakan PTK pada dasarnya merekam dan melaporkan
proses dan hasil pembelajaran secara sisematik dan terkendali
menurut kaidah ilmiah
3. Kegiatan penelitian yang dilakukan merupakan bagian integral
dari pembelajaran dan harus tetap bersandar pada alur dan
kaidah ilmiah
4. Masalah yang dipecahkan adalah masalah pembelajaran riil
dan merisaukan 5. Konsistensi sikap dan kepedulian dalam
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat
diperlukan
6. Cakupan masalah tidak hanya dibatasi pada masalah
pembelajaran di ruang kelas
Bidang kajian PTk :
1. Pembelajaran di kelas : cara belajar dan proses
2. Desain dan strategi PBM : pengelolaan prosedur dan metode
3. AlAt bantu,media dan sumber belajar
4. SiStem evalusai PBM
5. ImplementasI kurikulum
Prosedur Siklus PTK Model Kemmis:

1. Permasalahan
2. AlternAtif pemecahan masalah
3. Pelaksanaan tindakan 1
4. Observasi 1
5. AnAlisis data 1
6. refleksi 1
7. Terselesaikan ? (siklus 1)
8. Tidak? AlternAtif pemecahan (rencana tindakan 2)
9. Pelaksanaan tindakan 2
10. Observasi 2
11. AnAlisis data 2
12. Refleksi 2
13. Terselesaikan ? SikluS 2
14. Tidak ? rencana tindakan selanjutnya
MeneMukan Masalah PTk :
1. Merenung
2. Berfikir tentang apa yang mungkin dapat diperbaiki
3. Pikirkan tentang beberapa kelompok masalah pembelajaran
4. Pilih masalah yang layak
5. Pilih masalah yang tidak terlalu luas dan sempit
6. Pilih masalah yang strategis
7. Pilih masalah yang anda senangi
8. Pilih masalah yang anda kuasai
Langkah PTk :
1. IdentIfIkasI dan analisis masalah
2. MeruMuskan masalah
3. MeruMuska tindakan
4. Melaksanakan tindakan
5. Melakukan refleksi (analisis,memarik kesimpulan dll)
SiStematika Laporan ptk :
1. Latar Belakang Masalah
2. Perumusan Masalah
3. Tujuan Penelitian
4. Manfaat Penelitian
Latar BeLakang MasaLah PTK :
1. Menulis kenyataan yang ada
2. Menulis harapan yang akan di tuju
3. AdAnyA masalah Meliputi Identifikasi Maslah dan Pembatasan masalah.
4. AdAnyA solusi
Perumusan masalah PTK :
Dikembangkan dari identifikasi dan pembatasan masalah

copas: ukg2016.com

Visualisasi model, pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, Taktik, dan Model Pembelajaran

copas http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pendekatan-strategi-metode-teknik-dan-model-pembelajaran/

 

Alternatif Alamat Cek Data Guru di P2TK

Posted by Nanang Qosyim

Berikut adalah link untuk cek data PTK atau guru di Direktorat P2TK Dikdas, sebagai alternatif jika web utama lambat:

Miror 1 http://223.27.144.195/info.php
Miror 2 http://223.27.144.195:8083/info.php
Miror 2 http://223.27.144.195:8082/info.php
Miror 4 http://223.27.144.195:8081/info.php

Cek SK Tunjangan Profesi dan Fungsional
Website http://116.66.201.163:8000/index.php

Kartini vs “jasa” Belanda?

artikel di http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/kartini-bikinan-belanda-115312433.html; secara garis besar mengungkapkan “peran Belanda” dalam memperkenalkan pemikiran “Kartini” ke penjuru dunia.

Sebagai narasi, Kartini memang dibikin oleh orang-orang Belanda. Dan inilah salah satu soal (atau “sial”?) utama yang merongrong narasi Kartini. Apa bisa kita kenal Kartini jika Belanda tak membuatkan narasi tentangnya?
Kartini sudah dikenal oleh banyak orang Belanda sebelum ajal menjemputnya pada 17 September 1904. Pembicaraan tentangnya sudah muncul sejak dia mulai menulis di beberapa surat kabar — tentu saja dalam bahasa Belanda.
Ketika dia meninggal, beberapa surat kabar memberitakannya. Bagaimanapun, Kartini sudah menjadi figur. Setidaknya dia adalah istri seorang bupati — istri utama Raden Djojoadiningrat, tapi bukan istri yang pertama. Tapi waktu itu belum ada gelagat Kartini akan menjadi sebuah narasi yang menonjol. Beberapa surat kabar hanya menulis ala kadarnya tentang kematian Kartini.
Saya ambil contoh berita di surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad dan Het Niuews van den Dag voor Nederlandsch-Indie. Pada hari yang sama, 31 Desember 1904, dua surat kabar itu menurunkan daftar orang-orang yang meninggal di tahun 1904. Di situ Kartini disebut dengan nama “Raden Ajoe Djojo Adiningrat Kartini, echgenoote van den Regent van Rembang”.
Narasi Kartini mulai dianyam canggih menyusul penerbitan surat-surat Kartini yang diterbitkan oleh JH Abendanon pada 1911. Surat-surat itu diterbitkan di Belanda di bawah judul “Door Duisternis Tot Licht”.
Buku itu dengan cepat direspons publik, mula-mula di Belanda lalu merembet ke Hindia-Belanda. Ulasan buku itu banyak ditulis di surat kabar di Belanda, iklan-iklan tentang buku itu tersebar di banyak surat kabar. Saya menemukan sepucuk iklan yang menjual buku Kartini di surat kabar De Tijd (The Times) pada Juni 1911.
Respons positif atas penerbitan buku itu bisa dirangkum dalam kalimat: “Lihatlah, kami orang Belanda juga bisa melahirkan pribadi pintar dan tercerahkan”. Belanda memang berkepentingan memunculkan pribadi maju dari negeri jajahan demi kepentingan kampanye politik etis mereka, untuk membuktikan bahwa pemerintah kolonial mereka tidak kalah dengan Inggris di India dalam hal memajukan rakyat terjajah.
Itulah sebabnya, dua tahun sejak penerbitan surat-surat Kartini, orang-orang Belanda yang sedang giat-giatnya mempromosikan gerakan memajukan rakyat terjajah melalui pendidikan segera membuat Yayasan Kartini, yang salah satu proyeknya adalah mendirikan sekolah Kartini di Semarang. Dan peristiwa itu diliput secara besar-besaran oleh surat kabar bergengsi di Belanda.
Saya menemukan arsip surat kabar Der Leeuwarder Courant (surat kabar yang terbit sejak 1752) yang melaporkan tentang Sekolah Kartini pada edisi Minggu, 21 Juli 1913. Tak tanggung-tanggung, laporan berjudul “Kartini Scholen” itu nyaris memakan satu halaman penuh — dan itu diterbitkan di halaman muka. Di sana dituliskan betapa Yayasan Kartini akan menjadi organisasi menyebar di seluruh negeri untuk memajukan pendidikan di negeri terjajah.
Sejak itulah Kartini sebagai narasi mulai mencuat. Buku surat-surat Kartini diterbitkan terus-menerus dan juga terus diperbincangkan. Yayasan Kartini di Belanda bekerja dengan bagus untuk mempopulerkan narasi tentang Kartini ini.
Dan “wabah narasi Kartini” pun dengan cepat menyebar ke Hindia Belanda, tanah kelahiran Kartini. Saya menemukan secarik iklan di surat kabar De Sumatra Post edisi 28 Januari 1914 yang berisi promosi berbagai jenis kalender. Salah satu kalender yang dijual adalah “Raden Kartini Kalender” yang dijual seharga 1,75 gulden.
Jadi, jauh sebelum artis-artis cantik nan molek (kadang dalam pose seksi di atas motor/mobil) dijadikan model kalender seperti yang sering kita lihat sekarang, Kartini sudah lebih dulu muncul dalam kalender.
Iklan ini jelas menunjukkan narasi Kartini sudah hadir bukan hanya secara tekstual, tapi juga visual. Soal kalender Kartini inilah yang luput dari penelitian Petra Mahy, peneliti dari Monash University yang melacak narasi Kartini dalam media cetak. Narasi Kartini secara visual sudah ada sejak 1914.
Dan itu terus berlanjut. Pada parade perayaan 50 tahun Ratu Wilhelmina, organisasi pemuda Jong Java menampilkan episode Kartini di sebuah truk/gerobak besar dengan Sujatin Kartowijono (aktivis perempuan yang kelak ikut menginisiasi Kongres Perempuan pertama) memerankan sosok Kartini. Sujatin saat itu mengenakan kebaya dan sanggul, seperti potret Kartini yang kita kenal sekarang, dan itulah barangkali awal mula citra Kartini sebagai perempuan Jawa dimulai secara visual.
Sejak itu, dalam semua perayaan mengenang Kartini di tahun-tahun berikutnya, potret besar Kartini yang berkebaya dan bersanggul tak pernah absen dipajang.
Narasi Kartini semakin kokoh dalam tatanan sosial pada 1929. Tahun itu tepat 50 tahun kelahiran Kartini. Dan untuk merayakannya banyak sekali acara mengenang Kartini. Di Sekolah Perempuan van Deventer di Solo, acara itu dihadiri oleh banyak pejabat penting. Di Purworejo, seperti dilaporkan surat kabar Bataviasch Nieuwhblad edisi 16 April 1929, organisasi Wanito Oetomo menggelar acara mengenang 50 tahun Kartini. Salah satu acaranya adalah dengan mengheningkan cipta selama semenit.
Perayaan 60 tahun Kartini pada 1939 juga dirayakan, kali ini bahkan di luar Jawa. Organisasi Kaoetamaan Istri di Medan menggelar acara yang sama. Seperti ditunjukkan Petra Mahy, organisasi Kaoetamaan Istri bahkan menerbitkan majalah edisi khusus yang membahas Kartini dan mengklaim bahwa perayaan Hari Kartini sudah dirayakan di mana-mana.
Surat kabar De Indische Courant edisi 25 April 1939 menurunkan laporan berjudul “Kartini Herdenking” (Perayaan Kartini). Perayaan 60 tahun Kartini disebut-sebut disokong oleh pemerintah kolonial dengan gegap gempita.
Kilas balik kemunculan dan penahbisan Kartini sebagai narasi yang saya lakukan ini bisa menjelaskan bagaimana Kartini adalah “anak kesayangan semua orang” bahkan sejak era kolonial Belanda.
Parafrase “anak kesayangan semua orang” ini perlu digarisbawahi untuk menegaskan kekhususan posisi Kartini dalam historiografi Indonesia.
Kenapa? Karena setelah Indonesia merdeka, narasi ketokohan Kartini yang dibikin Belanda ini tidak dihapuskan oleh para intelektual Indonesia. Tidak banyak sosok yang dipuji dan disokong sedemikian rupa oleh pemerintah kolonial dan pemerintah Indonesia merdeka sekaligus.
Padahal, salah satu fase penting dalam perkembangan ilmu sejarah di Indonesia adalah proyek nasionalisasi historiografi. Dalam proyek ini, dekonstruksi terhadap sejarah Hindia Belanda dilakukan. Apa yang dulu dalam sejarah kolonial dianggap sebagai pengacau dan perusuh (misalnya Diponegoro), dalam proyek nasionalisasi historiografi ini diputarbalikkan sedemikian rupa menjadi para pahlawan penuh jasa dan sarat pahala.
Tetapi Kartini berbeda. Kartini tetap diperlakukan secara hormat walau pun semua tahu narasi Kartini ini juga dimanfaatkan oleh pemerintah kolonial dalam kampanye keberhasilan politik etis mereka.
Yang dilakukan oleh para intelektual Indonesia pasca-kolonial bukan menghapuskan narasi Kartini, tapi mengambilalihnya, lantas memodifikasi sedemikian rupa dan ujung-ujungnya sama: Kartini semakin kokoh sebagai narasi.
Inilah Kartini yang dibentuk, disunting dan direka-ulang oleh mereka yang merasa berkepentingan terhadapnya. Dan Kartini tak bisa melawan atau menanggapi pembentukan narasi tentangnya. Dia sudah terbujur kaku di kuburnya. Yang tersisa tinggal cerita — dan dalam hal Kartini, ini jenis cerita yang belum usai.
Bagaimana cara modifikasi terhadap Kartini sebagai narasi ini dilakukan di masa pasca-kolonial?

 

Konsep Kewirausahaan dan Pendidikan Kewirausahaan di Sekolah

Posted on 29 Juni 2011    by AKHMAD SUDRAJAT

A.  Konsep Kewirausahaan

Sampai saat ini konsep kewirausahaan masih terus berkembang. Kewirausahan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan merupakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya, bercipta, berkarya dan bersahaja dan berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegiatan usahanya.
Continue reading “Konsep Kewirausahaan dan Pendidikan Kewirausahaan di Sekolah”