Kata sandi untuk melihat Nilai try out telah ditempel pada papan pengumuman.
Bagi siswa yang belum berhasil, masih ada waktu untuk memperbaiki.
Terima kasih
Kata sandi untuk melihat Nilai try out telah ditempel pada papan pengumuman.
Bagi siswa yang belum berhasil, masih ada waktu untuk memperbaiki.
Terima kasih
Ditulis dalam Artikel Pendidikan
Untuk menghadapi UN 2012, latihan soal/ bank soal dapat diunduh disini
Untuk soal-soal yang lain, silahkan kunjungi http://meetabied.blogspot.com ============ isinya lumayan bagus. Terima kasih tuk admin http://meetabied.blogspot.com
Ditulis dalam Bank Soal (latihan)
Materi ini sebenarnya saya dapatkan saat “googling”, namun kelupaan link sumbernya. Cover dan layout dimodif. Terima kasih tuk “penulis aslinya”.
file Pemantapan Materi Matematika UN SMP 2012 dapat diunduh disini
Semoga bermanfaat.
Ditulis dalam Bank Soal (latihan), matematika | Tag:materi matematika
portal yang layak tuk kita kunjungi, berkaitan dengan dunia pendidikan
http://www.wiziq.com
Ditulis dalam Uncategorized
![]()
sumber: akhmadsudrajat.wordpress.com
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses mengisyaratkan bahwa dalam proses pembelajaran, seorang guru seyogyanya dapat memperhatikan karakteristik siswanya. Karakteristiktik siswa sesungguhnya memiliki cakupan yang luas. Salah satu karakteristik siswa yang perlu diperhatikan guru dan akan mewarnai terhadap efektivitas belajar dan pembelajaran yaitu berkenaan dengan gaya belajar siswa.
Secara sederhana, gaya belajar siswa atau student learning style dapat diartikan sebagai karakteristik kognitif, afektif, dan perilaku psikologis seorang siswa tentang bagaimana dia memahami sesuatu, berinteraksi dan merespons lingkungan belajarnya, yang bersifat unik dan relatif stabil.
Dalam berbagai literatur tentang belajar dan pembelajaran, kita akan menjumpai sejumlah konsep tentang gaya belajar siswa, dan salah satunya adalah gaya belajar sebagaimana dikemukakan oleh David Kolb, salah seorang ahli pendidikan dari Amerika Serikat, yang mempopulerkan teori belajar “Experiential Learning” .
Kolb mengklasifikasikan Gaya Belajar Siswa ke dalam empat kecenderungan utama yaitu:
Selanjutnya Kolb mengemukakan, bahwa setiap individu tidak didominasi oleh satu gaya belajar tertentu secara absolut, tetapi cenderung membentuk kombinasi dan konfigurasi gaya belajar tertentu, yang diklasifikasikannya ke dalam 4 (empat) tipe:

Tipe 1. Diverger.
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan Reflective Observation (RO), atau dengan kata lain kombinasi dari perasaan (feeling) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Diverger memiliki keunggulan dalam kemampuan imajinasi dan melihat situasi kongkret dari banyak sudut pandang yang berbeda, kemudian menghubungkannya menjadi sesuatu yang bulat dan utuh. Pendekatannya pada setiap situasi adalah “mengamati” dan bukan “bertindak”. Siswa seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntutnya untuk menghasilkan ide-ide dan gemar mengumpulkan berbagai informasi, menyukai isu tentang kesusastraan, budaya, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “Why?”. Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai Motivator.
Tipe 2. Assimilator.
Tipe kedua ini perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC) dan Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari pemikiran (thinking) dan pengamatan (watching). Siswa dengan tipe Assimilator memiliki keunggulan dalam memahami dan merespons berbagai sajian informasi serta mengorganisasikan merangkumkannya dalam suatu format yang logis, singkat, dan jelas. Biasanya siswa tipe ini cenderung lebih teoritis, lebih menyukai bekerja dengan ide serta konsep yang abstrak, daripada bekerja dengan orang. Mata pelajaran yang yang diminatinya adalah bidang sains dan matematika. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What?”. Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Expert.
Tipe 3. Converger.
Tipe ini perpaduan antara Abstract Conceptualization (AC) dan Reflective Observation (RO) atau dengan kata lain kombinasi dari berfikir (thinking) dan berbuat (doing). Siswa mampu merespons terhadap berbagai peluang dan mampu bekerja secara aktif dalam setiap tugas yang terdefinisikan secara baik. Siswa gemar belajar bila menghadapi soal dengan jawaban yang pasti, dan segera berusaha mencari jawaban yang tepat. Dia mau belajar secara trial and error hanya dalam lingkungan yang dianggapnya relatif aman dari kegagalan.
Siswa dengan tipe Converger unggul dalam menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Biasanya mereka punya kemampuan yang baik dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebih menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif). Dia cenderung tidak emosional dan lebih menyukai bekerja yang berhubungan dengan benda dari pada manusia, masalah sosial atau hubungan antar pribadi.
Mata pelajaran yang yang diminati adalah bidang IPA dan teknik. Mereka biasanya lebih banyak bertanya “How?”. Peran dan fungsi guru yang cocok untuk menghadapi siswa tipe ini adalah sebagai seorang Coach, yang dapat menyediakan praktik terbimbing dan dapat memberikan umpan balik yang tepat.
Tipe 4. Accomodator
Tipe ini perpaduan antara Concrete Experience (CE) dan Active Experimentation (AE) atau dengan kata lain kombinasi antara merasakan (feeling) dengan berbuat (doing). Siswa tipe ini senang mengaplikasikan materi pelajaran dalam berbagai situasi baru untuk memecahkan berbagai masalah nyata yang dihadapinya. Kelebihan siswa tipe ini memiliki kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang dilakukannya sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan dirinya dalam berbagai pengalaman baru yang menantang. Dalam usaha memecahkan masalah, mereka biasanya mempertimbangkan faktor manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi) dibanding analisa teknis. Mereka cenderung untuk bertindak berdasarkan intuisi/dorongan hati daripada berdasarkan analisa logis, sering menggunakan trial and error dalam memecahkan masalah, kurang sabar dan ingin segera bertindak. Bila ada teori yang tidak sesuai dengan fakta cenderung untuk mengabaikannya. Mata pelajaran yang disukainya yaitu berkaitan dengan lapangan usaha (bisnis) dan teknik.
Mereka biasanya lebih banyak bertanya “What if?”. Peran dan fungsi guru dalam berhadapan dengan siswa tipe ini adalah berusaha menghadapkan siswa pada “open-ended questions”, memaksimalkan kesempatan siswa untuk mempelajari dan menggali sesuatu sesuai pilihannya. Penggunaan Metode Problem-Based Learning tampaknya sangat cocok untuk siswa tipe yang keempat ini.
=================
Ditulis dalam Artikel Pendidikan | Tag:gaya belajar siswa
Dalam peringatan hari Guru Nasional tahun 2011, SMPN 3 Tarakan mengadakan pemilihan “guru idola siswa” yang diprakarsai oleh Kesiswaan-OSIS. Salah satu indikatornya adalah guru yang menjadi “motivator siswa” . Setelah selesai penghitungan angket, (data menyebar– sumber panitia) maka ditetapkan 2 nama sebagai guru “idola” 2011 di SMPN 3 Tarakan adalah Bpk. Eris Arko M., SPd dan Ibu Sardina, SPd. Beliau berdua merupakan sosok guru dari “angkatan muda” ===(selamat kepada beliau berdua : admin) Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Artikel Pendidikan | Tag:faforit, guru, idola, panutan
Menurut psikolog Howard Gardner, setiap orang memiliki sembilan kecerdasan meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda yaitu : (1) Word Smart; pandai mengolah kata-kata. (2) Picture Smart; pandai mempersepsi apa yang dilihat. (3) Music Smart; pandai dan peka dalam hal musik.(4) Body Smart; pandai dalam keterampilan olah tubuh dan gerak. (5) Logic Smart; pandai dalam sains dan matematika. (6) People Smart; pandai memahami pikiran dan perasaan orang lain. (7) Self Smart; pandai dan peka dalam mengenali emosi diri sendiri. (8) Nature Smart;pandai dan peka dalam mengamati alam. (9) Existence Smart; pandai dan peka akan makna keberadaan manusia dalam hidup
Ditulis dalam Artikel Pendidikan | Tag:MI
Asas Guru dalam bentuk hubungan pola atau tingkah laku antara Guru dengan Siswa terdiri atas 3 pernyataan berdasarkan Rumusan dari Bapak Pendidikan Nasional yaitu Ki Hajar Dewantara. Sedikit mengingatkan, Bapak Pendidikan Nasional Indonesia Ki Hajar Dewantara lahir tahun 1889 dan meninggal pada tahun 1959, Beliau pernah menjabat sebagai Menteri P dan K Republik Indonesia ke 1 pada tahun 1945. Dan Beliau merumuskan 3 Asas Pendidikan, yaitu:
3 Asas tersebut jika di implementasikan dalam Dunia Pendidikan dapat diartikan Sebagai Berikut: Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Artikel Pendidikan
Daftar ini kelihatannya belum falid, ada beberapa nama yang telah ikut sertifikasi tahun 2011, namun muncul lagi pada daftar balon peserta Sertifikasi Guru 2012.
Ditulis dalam Uncategorized
Fungsi Supervisi Pendidikan
Ditulis dalam Artikel Pendidikan
Komentar Terakhir